KEFAMENANU, - Di sebuah ruangan berukuran 4x6 meter di SDN Saioni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, dua dus besar baru saja tiba.Dus-dus itu tampak sederhana, namun di dalamnya tersimpan sesuatu yang amat berharga bagi anak-anak sekolah di wilayah perbatasan dengan negara Timor Leste.“Ayo kita mulai unboxing!” seru Joseph Miguel Angelo Kolo, siswa kelas V, sambil tersenyum lebar sambil memegang pisau cutter kecil.Tiga orang temannya berdiri dan empat guru mengelilingi meja kayu di tengah ruang perpustakaan yang masih tampak kosong.Angelo lalu membuka perekat yang ditempel erat di dus menggunakan pisau cutter dengan pelan hingga terbuka.Baca juga: Buku Datang ke Tobelo, Semangat Literasi Siswa SD Naskat BT 3 di Tengah Minim Media BelajarSaat tutup dus dibuka, aroma kertas baru langsung memenuhi ruangan. Sampul-sampul buku berwarna cerah terpampang, mulai dari cerita anak, ensiklopedia mini, hingga buku motivasi bergambar.Wajah-wajah polos itu tampak berbinar. Mereka memegang setiap buku seolah memegang harta karun.“Buku ini bagus sekali, ada cerita tentang luar angkasa,” kata Angelo penuh antusias.Baca juga: Keracunan Massal di Festival Literasi Indragiri Hulu Ditetapkan KLB, Pemkab Tanggung Biaya KorbanSementara yang lain langsung menata buku-buku itu di rak kayu sederhana, yang selama ini lebih sering dibiarkan kosong karena minim koleksi.Buku-buku tersebut datang dari Kompas.com, yang melalui inisiatif literasinya menyalurkan bantuan bacaan ke tiga sekolah di perbatasan Indonesia–Timor Leste, SDN Saioni, SMP Negeri 2 Miomaffo Timur, dan SMP Negeri Satap Sono.Bantuan ini menjadi angin segar bagi sekolah-sekolah yang selama ini berjuang menumbuhkan budaya membaca di tengah keterbatasan.Kepala SDN Saioni, Fransiskus Taeki, tak kuasa menyembunyikan rasa gembira. Ia bercerita bahwa perpustakaan sekolahnya berdiri sejak 2018, namun koleksinya sangat terbatas dan sebagian besar sudah usang.“Selama ini kami hanya punya buku pelajaran. Buku bacaan anak-anak, apalagi cerita inspiratif, hampir tidak ada. Jadi, bantuan ini seperti oase di tengah kekeringan,” tuturnya, kepada Kompas.com, Rabu .Menurut Fransiskus, setiap kali ada buku baru, para siswa langsung berebut untuk membaca.“Mereka selalu tanya, ‘Pak, kapan ada buku baru lagi?’ Sekarang mereka punya alasan untuk datang ke perpustakaan setiap hari,” ujarnya sambil tersenyum.
(prf/ega)
Menebar Semangat Literasi di Tapal Batas Negara dengan Buku
2026-01-12 04:07:04
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 04:00
| 2026-01-12 03:32
| 2026-01-12 03:17
| 2026-01-12 03:04
| 2026-01-12 02:54










































