Ronny Pasla Meninggal Dunia, Kiper Legendaris Timnas Berpulang di Usia 79 Tahun

2026-01-12 09:42:54
Ronny Pasla Meninggal Dunia, Kiper Legendaris Timnas Berpulang di Usia 79 Tahun
- Mantan penjaga gawang timnas Indonesia, Ronny Pasla, wafat di Jakarta pada usia 79 tahun pada Senin dini hari WIB.Dilansir dari Antara, jenazah Ronny bakal disemayamkan di Gereja Evangelis Jakarta Pusat sebelum dimakamkan di Pemakaman Pondok Kelapa pada Selasa .Ronny pernah menjadi kiper utama Timnas Indonesia pada akhir 1960-an sampai era 1970-an.Ia ikut membawa Indonesia meraih gelar Aga Khan Gold Cup 1967, Turnamen Merdeka 1969, dan Sukan Cup Singapura 1972.Baca juga: Erick Thohir Soal FIFA Series 2026: Ajang Menguji dan Naikkan Level TimnasSalah satu momen yang selalu diingat publik terhadap Ronny Pasla terjadi ketika Timnas Indonesia menghadapi Santos pada laga persahabatan 1972. Walaupun Timnas kalah 1-2, Ronny mampu menggagalkan penalti Pele dan menorehkan beberapa penyelamatan penting.A post shared by SS-bimbaaiueo (@bimba.aiueo.ss)Dalam perjalanan di level klub, Ronny pernah bermain untuk Dinamo Medan, PSMS Medan, Persija Jakarta, dan Indonesia Muda. Ia ikut mengantarkan Persija menjuarai kompetisi perserikatan pada 1975.Baca juga: Timnas U22 Indonesia Ditarget Raih Perak di SEA Games 2025Sebelum menekuni sepak bola, Ronny sempat berkarier sebagai atlet tenis.Ia pernah terpilih mewakili Sumatera Utara untuk PON VII 1965, meski ajang tersebut batal digelar akibat situasi politik setelah G30S.Usai gantung sepatu pada usia 40 tahun, Ronny Pasla kembali dekat dengan dunia tenis.Ia diketahui pernah mendirikan dan mengelola Velodrom Tennis School di Jakarta.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-12 08:54