Kakeknya Merantau ke Indonesia, Kini Cucunya Menuntut Ilmu di China

2026-02-02 04:50:57
Kakeknya Merantau ke Indonesia, Kini Cucunya Menuntut Ilmu di China
TAIYUAN, - Lebih dari 100 tahun lalu, kakek buyut Veldesen Yaputra berlayar dari Provinsi Guangdong ke Indonesia untuk mencari penghidupan. 100 tahun kemudian, Veldesen memilih menempuh studi di China. Menjalani sekolah menengah hingga pascasarjana di negara tersebut, kini dia tidak hanya mampu berbicara bahasa Mandarin dengan lancar, tetapi juga ingin berperan sebagai duta budaya menjembatani persahabatan masyarakat antara Indonesia dan China.Baru-baru ini, mahasiswa berusia 24 tahun itu memulai perjalanan menjelajahi arsitektur kuno di Provinsi Shanxi, China utara. Baca juga: Wakil Dubes Australia Bangun Kolaborasi Budaya dan Pendidikan di YogyakartaSambil mengamati dan merekam, dia aktif bertanya dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk mempelajari arsitektur bersejarah. "Mengapa di sini tidak ada tangga? Untuk apa relung dinding ini?" Setiap detail arsitektur selalu membangkitkan rasa ingin tahunya.Usai kegiatan, Veldesen mengelola akun media sosialnya dan menggunakan video pendek yang ringan dan interaktif untuk menampilkan keindahan ukiran kayu, papan nama, patung warna, dan mural dalam arsitektur tradisional China kepada pengikutnya, yang sebagian besar asal dari Indonesia.Di Jinci, perpaduan alam dan bangunan bersejarah membuatnya terpesona; di Istana Yongle, mural besar dengan garis dan warna yang menakjubkan membangkitkan imajinasinya tentang dunia dewa dan dewi China; di Kuil Shuanglin, dia merasa setiap patung warna seakan bernapas, bercerita dengan tatapan yang telah melintasi ribuan tahun."Kota-kota di Indonesia sedang dalam pembangunan yang cepat. Pengetahuan dan kearifan yang saya pelajari di China pasti akan berguna suatu hari nanti," ujar Veldesen dengan penuh keyakinan, sebagaimana dilansir Xinhua.Baca juga: Pemerintah Belanda Lanjutkan Repatriasi Benda Budaya IndonesiaKampung halamannya adalah Pontianak di Provinsi Kalimantan Barat, kota yang juga dijuluki sebagai Kota Khatulistiwa. Kedua orang tuanya tidak bisa berbahasa Mandarin, dan sejak kecil dia pun tidak pernah mempelajari bahasa itu. Namun, dia masih ingat kakeknya yang gemar menonton film China di televisi.Didorong oleh rasa ingin tahu tentang China, pada 2017 Veldesen memanfaatkan kesempatan untuk belajar di China. Setelah menyelesaikan tiga tahun pendidikan sekolah menengah atas di Shenzhen, dia diterima di program sarjana Fakultas Seni Rupa Universitas Tsinghua, dan kini menjalani program pascasarjana di Fakultas Arsitektur universitas tersebut. Pengalaman akademik selama bertahun-tahun membuatnya semakin mencintai budaya tradisional China.Baca juga: Diplomasi Budaya India itu Bernama Yoga"Desain bukan hanya seni, tetapi juga tanggung jawab sosial. Arsitektur tidak boleh kehilangan ciri khas lokal, namun juga harus menyesuaikan dengan kehidupan modern," kata Veldesen.Dia berharap melalui pengembangan bersama warisan budaya berwujud dan tak berwujud, dapat tercipta lingkungan pedesaan yang harmonis dan berkelanjutan, serta meningkatkan kualitas hidup dan kesadaran ekologis masyarakat desa, guna mendukung pembangunan pedesaan.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-02 02:55