Membaca Runtutan Siklon Senyar dan Bakung, Mengapa Atmosfer Indonesia Seaktif dan Selabil Ini?

2026-01-11 23:03:53
Membaca Runtutan Siklon Senyar dan Bakung, Mengapa Atmosfer Indonesia Seaktif dan Selabil Ini?
- Dalam waktu kurang dari satu bulan, kawasan Benua Maritim Indonesia (BMI) mengalami dinamika atmosfer yang sangat tidak biasa.Setelah kemunculan Siklon Tropis Senyar yang terbentuk di lintang rendah dan kanal sempit Selat Malaka, kini Siklon Tropis Bakung berkembang di Samudra Hindia, disertai dua area tekanan rendah lain, yaitu bibit siklon 92S di barat daya Padang dan 93S di selatan Jawa hingga Bali–Nusa Tenggara.Runtutan kemunculan sistem tropis ini menunjukkan bahwa atmosfer Indonesia sedang berada dalam fase sangat aktif dan labil kuat secara atmosferik.Secara klimatologis, Indonesia memang berada di wilayah dengan pengaruh Coriolis yang lemah untuk menghasilkan defleksi angin, sehingga tidak menjadi tempat ideal pembentukan siklon tropis.Namun, kondisi atmosfer pada periode ini memperlihatkan bahwa sejumlah prasyarat fisis bekerja secara simultan.Suhu muka laut yang hangat di perairan Indonesia dan Samudra Hindia meningkatkan penguapan, menyebabkan kandungan uap air atmosfer sangat tinggi dari suplai aliran Monsun Asia yang membawa massa udara sangat lembap.Total Precipitable Water (TPW) di wilayah BMI mencapai 55–60 kg/m², jauh di atas nilai klimatologisnya, menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi pertumbuhan konveksi.Atmosfer yang basah ini tercermin dari penurunan nilai Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang persisten.OLR rendah menandakan dominasi awan konvektif tinggi yang bertahan lama, menunjukkan bahwa atmosfer tidak sempat kembali stabil di antara episode konveksi. Dalam kondisi seperti ini, hujan lebat tidak hanya intens, tetapi juga meluas dan berulang (persistent rainfall).Baca juga: Berhenti Normalisasi Bencana, Banjir akibat Siklon Bisa Dicegah dengan SainsPada skala dinamika yang lebih besar, Madden–Julian Oscillation (MJO) fase basah aktif dan diperkuat oleh gelombang Kelvin serta equatorial Rossby.Interaksi gelombang-gelombang ini menciptakan penguatan konveksi secara multi-skala, meningkatkan gerakan naik dan konvergensi.Pada saat yang sama, wind shear vertikal (200–850 hPa) di perairan selatan Indonesia relatif rendah, membuka jendela kondusif untuk mempertahankan struktur vortex atmosferik.Peran Monsun barat (Asia) menjadi faktor regional yang krusial.Aliran Monsun yang lembap dari Samudra Hindia, ketika berinteraksi dengan topografi kepulauan Indonesia, mengalami proses channeling melalui celah-celah laut sempit.Mekanisme ini memusatkan aliran, meningkatkan konvergensi, dan memperkuat rotasi awal.


(prf/ega)