Fadli Zon Sebut Buku Sejarah Indonesia Ditulis Sejarawan, Bukan Pemerintah

2026-02-01 19:21:59
Fadli Zon Sebut Buku Sejarah Indonesia Ditulis Sejarawan, Bukan Pemerintah
JAKARTA, - Menteri Kebudayaan, Fadli Zon menegaskan bahwa buku "Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global" yang baru diluncurkan, bukan ditulis oleh pemerintah.Menurut Fadli, buku tersebut ditulis para sejarawan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang difasilitasi oleh Direktorat Sejarah Kementerian Kebudayaan.“Jadi memang (buku) ini ditulis oleh para ahlinya, yaitu sejarawan se-Indonesia. Yang tadi telah disebutkan, ada 123 penulis dari 34 perguruan tinggi se-Indonesia. Terima kasih yang sebesar-besarnya," kata Fadli dalam peluncuran buku, di Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Minggu ."Jadi ini bukan ditulis oleh saya, oleh Pak Restu, atau oleh orang Kementerian Kebudayaan. Kita memfasilitasi para sejarawan, para penulis sejarah," tambahnya.Baca juga: Fadli Zon Akui Buku Sejarah Indonesia Tak SempurnaFadli menerangkan, keterlibatan para sejarawan menjadi kunci penting dalam menjaga objektivitas dan memori kolektif bangsa.Dirinya juga menyinggung keberadaan Direktorat Sejarah yang kembali dihidupkan setelah sebelumnya sempat ditiadakan.Menurut dia, kebangkitan Direktorat Sejarah merupakan bagian dari upaya serius pemerintah untuk memfasilitasi penulisan sejarah nasional.“Dan Direktorat Sejarah ini, sebenarnya sudah almarhum tadi (sebelumnya). Direktorat Sejarah ini sudah tidak ada lagi. Pas kebetulan setahun yang lalu, ketika Presiden Bapak Prabowo Subianto mendirikan Kementerian Kebudayaan, salah satu yang kita minta adalah adanya Direktorat Sejarah. Hidup kembali Direktorat Sejarah kita!" ungkap Fadli.Ia mengakui, penulisan sejarah kerap memunculkan polemik di ruang publik. Namun, menurut Fadli, perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi.Baca juga: Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia, Meski Sebelumnya Menuai Pro-Kontra“Ada yang minta juga menghentikan penulisan sejarah. Saya kira ini juga pendapat yang di era demokrasi ini wajar-wajar saja," imbuhnya.Buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global diterbitkan dalam 10 jilid yang mencakup perjalanan panjang bangsa Indonesia, mulai dari Akar Peradaban Nusantara, interaksi Nusantara dalam jaringan global, masa kolonial, pergerakan kebangsaan, hingga era Reformasi dan konsolidasi demokrasi periode 1998-2024.Fadli menegaskan, sepuluh jilid tersebut tidak dimaksudkan sebagai catatan sejarah yang sepenuhnya lengkap, melainkan sebagai sorotan utama perjalanan bangsa.“Saya kira ini highlight. Kalau sejarah kita ditulis secara lengkap mungkin harusnya 100 jilid kalau mau ditulis secara lengkap. Jadi ini adalah highlight dari perjalanan," kata dia.Baca juga: Penulisan Ulang Buku Sejarah Indonesia: Dari Pro-Kontra hingga Rencana Rilis 2025Ke depan, Fadli menyebut pemerintah berencana melanjutkan penulisan sejarah tematik lainnya, seperti sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan 1945-1950, serta sejarah kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit, Sriwijaya, dan Pajajaran.Peluncuran buku ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan 80 tahun Indonesia merdeka.Fadli berharap buku tersebut dapat menjadi salah satu rujukan bagi masyarakat dalam memahami perjalanan sejarah bangsa.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-02-01 17:57