Kerikil Menempel di Alur Ban, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai

2026-02-04 14:27:52
Kerikil Menempel di Alur Ban, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai
JAKARTA, – Kerikil kecil yang berserakan di jalan kerap dianggap sepele oleh pengendara. Namun, tidak sedikit pemilik mobil yang khawatir, apakah benda kecil tersebut bisa menjadi penyebab ban bocor, terutama saat melaju di jalan rusak.Meski berukuran kecil dan sering disepelekan, batu kerikil yang bersarang di alur ban dapat menimbulkan kerusakan pada ban.Deputy Head of OE Sales PT Bridgestone Tire Indonesia, Fisa Rizqiano, menjelaskan bahwa secara teori, kerikil memang memiliki peluang untuk menembus lapisan luar ban. Namun, kemungkinan kerikil menyebabkan ban langsung bocor sebenarnya sangat kecil.Baca juga: Kapan AC Mobil Harus Dimatikan? Ternyata Hanya Dalam Kondisi Ini“Kerikil memang bisa menembus karet, namun sulit bisa sampai menembus sabuk baja (steel belt), yang bisa menyebabkan angin kurang atau kempes,” ujar Fisa saat dihubungi Kompas.com, Sabtu .Ban mobil modern dirancang dengan struktur berlapis. Di balik lapisan karet tapak ban, terdapat sabuk baja atau steel belt yang berfungsi memperkuat ban sekaligus menjaga kestabilan bentuk saat kendaraan melaju.Lapisan inilah yang menjadi pengaman utama dari kebocoran. Kerikil kecil yang terjepit di tapak ban umumnya hanya meninggalkan bekas atau tersangkut sementara, lalu terlepas dengan sendirinya saat mobil terus berjalan./Adityo Wisnu Ilustrasi kerikil pada alur ban mobilSementara itu, pada kesempatan berbeda, Fachrul Rozi, Customer Engineering Support Michelin Indonesia, mengatakan, kerikil yang tertinggal di sela-sela tapak ban dapat menyebabkan tekanan yang tidak merata pada permukaan ban saat digunakan."Kerikil yang tersangkut dapat memengaruhi keseimbangan ban, berpotensi merusak struktur tapak, bahkan memperbesar risiko ban mengalami kerusakan seperti sobek atau bocor," kata Rozi.Gesekan antara kerikil dan tapak ban juga bisa meningkatkan suhu ban, terutama saat berkendara dalam jarak jauh.Suhu yang meningkat ini dapat mempercepat ausnya karet ban dan mengurangi daya cengkeramnya di jalan, khususnya pada kondisi jalan basah.Untuk itu, pengendara tetap perlu waspada. Kerikil yang tajam dan terjepit dalam waktu lama berpotensi merusak karet ban secara perlahan, terlebih jika kondisi ban sudah aus atau tekanan angin tidak sesuai rekomendasi.Pemilik mobil juga sebaiknya rutin memeriksa kondisi ban, terutama setelah melewati jalan berbatu, proyek konstruksi, atau medan yang tidak rata.Baca juga: Waspada Angin Kencang, Pengemudi Wajib Perhatikan Batas Kecepatan di TolPemeriksaan visual sederhana bisa membantu mendeteksi benda asing yang menempel di tapak ban sebelum menimbulkan masalah lebih serius.Dengan kondisi ban yang terawat dan tekanan angin yang tepat, risiko ban bocor akibat kerikil di jalan bisa diminimalkan, sehingga perjalanan tetap aman dan nyaman.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 13:06