- Dua kerajaan besar di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Keraton Surakarta Hadiningrat dan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menjadi warisan penting dari pecahan Kerajaan Mataram Islam.Dari kedua kerajaan inilah lahir empat gelar bangsawan yang terkenal hingga kini, yakni Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegara, dan Paku Alam.Meski sama-sama bersumber dari wangsa Mataram, keempat gelar tersebut memiliki sejarah, makna, dan garis keturunan yang berbeda.Baca juga: Tradisi Brobosan, Penghormatan Terakhir Keluarga kepada Jenazah Pakubuwono XIIIBerikut ini sejarah dan silsilah gelar Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegara, dan Paku Alam.Gelar Hamengkubuwono berasal dari pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yaitu Pangeran Mangkubumi.Ia merupakan putra Sunan Amangkurat IV, Raja Mataram Islam kedelapan, dari selir bernama Mas Ayu Tejawati.Pada masa pemerintahan Sunan Pakubuwono III di Surakarta, Pangeran Mangkubumi melakukan pemberontakan menentang kerja sama antara Mataram dan VOC (Belanda).Perlawanan itu berakhir dengan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, yang secara resmi membagi Kerajaan Mataram Islam menjadi dua wilayah:Pada 13 Maret 1755, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Yogyakarta dengan gelar lengkap:Dok. Kawedanan Tandha Yekti Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Sultan Hamengkubuwono X saat menghadiri pameran Hamong Nagari. “Sri Sultan Hamengku Buwono I Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah”.Sejak saat itu, gelar Hamengkubuwono digunakan secara turun-temurun oleh para Sultan Yogyakarta, yang kini telah mencapai generasi ke-10, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono X.Gelar Pakubuwono lebih tua dari Hamengkubuwono. Gelar ini pertama kali digunakan oleh Pangeran Puger, yang kemudian bergelar Sunan Pakubuwono I, putra Amangkurat I dan cucu Sultan Agung, raja besar Mataram.Pangeran Puger semula memerintah dari Keraton Kartasura, tetapi akibat pemberontakan, pusat kerajaan dipindahkan ke Desa Sala (Solo) pada 1745 oleh cucunya, Sunan Pakubuwono II.Peristiwa ini menandai berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.Dalam Perjanjian Giyanti, putra Pakubuwono II, yakni Raden Mas Suryadi yang bergelar Pakubuwono III, diakui sebagai pewaris sah takhta Mataram bagian Surakarta.Sejak saat itu, gelar Pakubuwono menjadi simbol kekuasaan raja-raja Keraton Surakarta, dan masih digunakan hingga Pakubuwono XIII, yang wafat pada November 2025.Dalam 21 tahun terakhir, Keraton Solo dipimpin oleh Pakubuwono XIII hingga ia mangkat pada 2 November 2025.Kandidat kuat penerus Pakubuwono XIII adalah Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro yang memiliki nama asli Gusti Raden Mas Suryo Aryo Mustiko.KGPAA Hamangkunegoro diangkat menjadi Putra Mahkota Keraton Solo pada 2022. Ia adalah putra Pakubuwono XIII dengan istri sah sekaligus permaisurinya, Kanjeng Ratu Asih Winarni.Meski sudah memiliki putra mahkota, proses penentuan Pakubuwono XIV masih akan dibahas melalui musyawarah antara keluarga besar Keraton Kasunanan Surakarta.Sebab, masih ada nama Mahamenteri Keraton, KGPHPA Tedjowulan, yang juga berpeluang menjadi penerus takhta Keraton Solo.Tedjowulan pernah memiliki keabsahan hukum dari Kementerian Dalam Negeri saat terjadi dualisme kepemimpinan di Keraton Surakarta beberapa tahun silam.INSTAGRAM/@kraton_solo KGPAA Hamangkunegoro Sudibya Rajaputra atau yang dikenal dengan nama Gusti Purbaya. Gusti Purbaya, putra mahkota Keraton Surakarta, kandidat kuat pengganti Pakubuwono XIII yang meninggal. Simak profilnya berikut.Menanggapi hal ini, adik mendiang Pakubuwono XIII, KGPH Suryo Wicaksono atau akrab disapa Gusti Nino, pun berharap proses suksesi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dapat berlangsung secara damai, tidak diwarnai konflik seperti yang terjadi di masa lalu.“Mudah-mudahan tidak ada dualisme lagi. Semua bisa dimusyawarahkan dengan baik demi menjaga marwah dan kelestarian Keraton Kasunanan Surakarta,” ujar Gusti Nino, Minggu , dikutip dari Tribunnews.Gusti Nino menjelaskan, secara adat, Putra Mahkota KGPAA Hamangkunegoro yang paling berpeluang menjadi raja, meneruskan takhta ayahnya.Namun, proses suksesi ini akan bahas lebih lanjut oleh pihak Tedjowulan, Kanjeng Ratu Asih, dan pihak internal keraton lainnya.“Secara adat turun-temurun, penggantinya itu mengikuti aturan internal kerajaan atau angger-angger-nya. Biasanya berasal dari istri yang sudah diangkat menjadi permaisuri,” jelasnya.“Sementara beliau sudah mengangkat permaisurinya, Kanjeng Ratu Asih, dan anaknya adalah Purboyo. Jadi nanti kita tunggu bagaimana hasil musyawarah antara Tedjowulan, istri Sinuhun, Hangabei, lembaga dewan adat, dan para sesepuh,” tutup Gusti Nino.Berbeda dari dua kerajaan besar di atas, gelar Paku Alam disandang oleh penguasa Kadipaten Pakualaman, wilayah kecil yang berada di dalam Kesultanan Yogyakarta.Kadipaten ini didirikan pada 17 Maret 1813 oleh Pangeran Notokusumo, putra Sri Sultan Hamengkubuwono I sekaligus adik tiri Hamengkubuwono II.Sebagai penghargaan atas loyalitasnya kepada Inggris, yang kala itu berkuasa di Jawa, Pangeran Notokusumo diberi wilayah otonom di bagian selatan Kulon Progo dan bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I.Sejak itu, gelar Paku Alam diwariskan turun-temurun kepada para adipati Pakualaman.Kini, kadipaten tersebut dipimpin oleh KGPAA Paku Alam X, yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).KOMPAS.COM/Fristin Intan Sulistyowati Peringatan kenaikan tahta ke-3, Kanjeng Gusti Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara X, di Pendhapa Ageng, Pura Mangkunegaran, Kota Solo, Jawa Tengah (Jateng), pada Jumat .Sementara itu, gelar Mangkunegara disandang oleh penguasa Kadipaten Mangkunegaran yang berdiri di Surakarta.Kadipaten ini lahir dari Perjanjian Salatiga tahun 1757, dua tahun setelah Perjanjian Giyanti.Perjanjian itu ditandatangani oleh Sultan Hamengkubuwono I, Pakubuwono III, VOC, dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa), tokoh legendaris yang terkenal dengan semboyan “tiji tibeh” (mati siji mati kabeh, hidup siji hidup kabeh).Sebagai hasil perjanjian, Raden Mas Said diangkat sebagai penguasa Mangkunegaran dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.Wilayah Mangkunegaran mencakup sebagian wilayah Karanganyar, Wonogiri, dan Ngawen (Yogyakarta).Kini, Mangkunegaran dipimpin oleh KGPAA Mangkunegara X, yang meneruskan garis trah Pangeran Sambernyawa.Keempat gelar, Pakubuwono, Hamengkubuwono, Paku Alam, dan Mangkunegara, berasal dari satu akar sejarah, yakni Kerajaan Mataram Islam.Namun, perbedaan politik dan perjanjian kolonial pada abad ke-18 menyebabkan kerajaan besar itu terpecah menjadi empat pusat kekuasaan yang masing-masing mempertahankan tradisi Jawa dengan cara mereka sendiri.GelarKeraton / KadipatenPendiriTahun BerdiriLokasiPakubuwonoKasunanan Surakarta HadiningratSunan Pakubuwono I (Pangeran Puger)1745Surakarta (Solo)HamengkubuwonoKesultanan Ngayogyakarta HadiningratSultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi)1755YogyakartaMangkunegaraKadipaten MangkunegaranPangeran Sambernyawa (Raden Mas Said)1757SurakartaPaku AlamKadipaten PakualamanPangeran Notokusumo1813YogyakartaEmpat gelar kebangsawanan ini bukan sekadar simbol status, tetapi juga cerminan sistem politik dan filosofi Jawa yang kaya makna.Baca juga: Rute Lengkap Iring-Iringan Jenazah Pakubuwono XIII dari Solo, Jogja, hingga ImogiriDari Pakubuwono di Surakarta hingga Hamengkubuwono di Yogyakarta, dari Mangkunegara hingga Paku Alam, semuanya adalah penerus sah warisan Mataram Islam, dinasti yang membentuk wajah budaya Jawa hingga hari ini.Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "Hamengkubuwono, Paku Alam, Pakubuwono, Mangkunegara, Apa Bedanya?".
(prf/ega)
Apa Bedanya Pakubuwono, Hamengkubuwono, Mangkunegara, dan Paku Alam? Ini Sejarah dan Silsilah Gelarnya
2026-01-12 07:38:57
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 07:13
| 2026-01-12 05:54
| 2026-01-12 05:39
| 2026-01-12 05:38
| 2026-01-12 05:00










































