Pro Kontra Renovasi Gedung Sate: antara Estetika Candi Bentar dan Tak Prioritas

2026-01-12 07:16:56
Pro Kontra Renovasi Gedung Sate: antara Estetika Candi Bentar dan Tak Prioritas
- Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menata ulang kawasan Gedung Sate, termasuk renovasi pilar bergaya Candi Bentar di sejumlah pintu masuk.Hal itu memantik perdebatan publik. Di satu sisi, ada warga yang menilai langkah tersebut sebagai upaya merawat simbol sejarah Bandung.Namun, di sisi lain, sebagian warga mempertanyakan urgensi proyek ini, terutama di tengah efisiensi anggaran.Sebagian warga yang mendukung menganggap renovasi ini dapat memperkuat identitas Gedung Sate sekaligus memperbaiki tampilan kantor Gubernur Jawa Barat yang dinilai sudah lama tidak mendapat perbaikan.Andi Hermawan (21), warga Coblong, menilai ornamen bernuansa Nusantara justru menambah estetika.Baca juga: Sorotan Renovasi Gedung Sate Rp 3,9 M Bergaya Candi: Tak Darurat, Banyak yang Perlu Dibereskan"Saya setuju-setuju saja selama itu tidak merusak Gedung Sate, apalagi itu kan bangunan bersejarah ya, sebagai ikon Kota Bandung," ujarnya saat ditemui di kawasan Cibeunying Utara, Jumat .Andi juga menambahkan bahwa gedung berusia lebih dari satu abad itu memang perlu dirawat."Kalau untuk perawatan harus. Kan sayang juga kalau bangunan bersejarah dibiarkan nanti rusak, apalagi ini jadi simbol kalau ke Bandung," katanya.Warga lain, Ijal (19) dari Kiaracondong, juga tidak keberatan dengan renovasi selama tetap selaras dengan karakter bangunan."Ya itu misalkan kalau malah makin bagus ya enggak apa-apa. Tapi, tetap harus sesuai dengan Gedung Sate, asal jangan sampai beda, kan nanti gimana gitu," ucapnya.Kompas.com/Faqih Rohman Syafei Kondisi pilar area luar Gedung Sate, Kota Bandung, Jawa Barat yang direnovasi dengan corak Candi Bentar, Kamis .Namun, ada pula warga yang menganggap proyek ini tidak tepat dilakukan sekarang, apalagi menelan anggaran hingga Rp 3,9 miliar.Irfan Fitra (23), warga Sumur Bandung, mempertanyakan prioritas pemerintah."Kata saya, lebih baik uangnya dipakai yang lain dulu, misalkan masalah sampah, terus banjir, belum beres-beres di Bandung," tuturnya.Kevin (34), warga Cimahi Utara, juga menyampaikan pandangan serupa.Menurut dia, anggaran yang besar justru dapat dialihkan pada kebutuhan publik yang lebih mendesak.


(prf/ega)