Polisi dan Kemenkes Tangani Wabah ISPA di Suku Talang Mamak Riau, Beri Bantuan Oksigen

2026-01-15 17:56:54
Polisi dan Kemenkes Tangani Wabah ISPA di Suku Talang Mamak Riau, Beri Bantuan Oksigen
PEKANBARU, - Wabah penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terjadi di lingkungan masyarakat Suku Talang Mamak di Dusun Datai, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.Wabah ini mengakibatkan 5 orang anak meninggal dunia.Pihak kepolisian dari Polsek Batang Gansal bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turun tangan untuk memutus penyebaran ISPA tersebut."Hari Rabu kemarin, kami bersama Kementerian Kesehatan dan pihak lainnya, turun ke Dusun Datai untuk melakukan penanganan terhadap warga yang terkena wabah penyakit," ujar Kapolsek Batang Gansal, Iptu Agus Ferinaldi kepada Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu .Agus menyebut, saat ini warga di pedalaman tersebut menderita batuk, demam, pilek, mual, dan hilang selera makan.Baca juga: 5 Anak Suku Talang Mamak Meninggal Karena ISPA di Indragiri Hulu RiauWarga yang terkena penyakit itu, terdiri dari orang dewasa dan anak-anak.Petugas melakukan serangkaian penanganan, mulai dari pelayanan kesehatan door to door, pengobatan warga yang sakit, edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta inspeksi sanitasi lingkungan.Tak hanya itu, sebut Agus, petugas kesehatan juga menyelidiki epidemiologi lebih lanjut, termasuk pengambilan spesimen untuk penegakan diagnosis.Kemudian, pengambilan sampel melalui swab dan sampel dahak terhadap 21 orang warga."Pihak Kemenkes juga memberikan bantuan oksigen konsentrator dan makan tambahan untuk ibu bayi dan ibu hamil," sebut Agus.Baca juga: Lonjakan ISPA di Dairi Capai 7.366 Kasus, RSUD Sidikalang Kekurangan Tempat TidurPengecekan kesehatan dan penyaluran bantuan kepada warga, tambah Agus, telah dilaksanakan sejak 3 Oktober 2025.Diberitakan sebelumnya, sebanyak 5 orang anak-anak Suku Talang Mamak meninggal dunia ISPA.Iptu Agus Ferinaldi menjelaskan, korban bernama Ira, mulai sakit pada 26 Oktober dan meninggal pada 29 Oktober 2025.Kemudian, korban bernama Riki, sakit sejak 8 Oktober dan meninggal dunia beberapa hari setelahnya. Korban bernama Itar, tidak diketahui sejak kapan sakit, namun meninggal dunia pada bulan Oktober.Baca juga: Antisipasi ISPA Saat Pancaroba, Pemkot Surabaya Gratiskan Vaksin PCV untuk BalitaKorban bernama Andra, juga tidak diketahui kapan sakit, namun meninggal dunia pada 28 Oktober.Sedangkan korban bernama Dinda, mulai sakit pada 16 Oktober dan meninggal pada 2 November 2025. "Korban meninggal dunia semuanya anak-anak," sebut Agus, dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu Agus mengatakan, pihaknya bersama petugas kesehatan dan TNI telah melakukan berbagai upaya pencegahan.Mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga pemberian obat-obatan, oksigen, dan edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Secara medis, luka dapat dibedakan berdasarkan seberapa dalam jaringan tubuh yang rusak.Luka superfisial adalah jenis luka yang hanya mengenai sebagian lapisan kulit, seperti goresan atau lecet. Luka jenis ini biasanya tidak terlalu dalam dan dapat sembuh dalam waktu cepat.“Luka superfisial itu yang terputus kontinuitasnya hanya sebagian lapisan kulit,” kata dr. Heri.Berbeda dengan luka superfisial, luka dalam biasanya menembus lapisan kulit hingga mengenai jaringan otot, bahkan tulang. Kondisi ini dapat menyebabkan perdarahan dan risiko infeksi yang lebih tinggi.Umumnya, luka dalam memerlukan penanganan medis segera karena proses penyembuhannya lebih kompleks dibanding luka ringan.“Kalau dia luka dalam, itu tembus dari kulit bisa sampai ke otot. Bahkan kalau traumanya berat, bisa sampai ke tulang,” lanjut dr. Heri.Baca juga: SHUTTERSTOCK/NONGASIMO Beda jenis luka, beda penyebab dan cara penyembuhannya. Memahami jenis luka penting agar penanganannya tepat, simak penjelasan dokter.Selain dari kedalamannya, luka juga dapat dikategorikan berdasarkan waktu penyembuhannya menjadi luka akut dan kronis.Menurut dr. Heri, luka akut adalah luka yang sembuh melalui proses alami tubuh dan biasanya pulih dalam waktu beberapa minggu.“Luka juga bisa diklasifikasikan menurut waktu sembuhnya, itu menjadi luka yang akut dan luka yang kronis,” ucap dr. Heri.“Luka yang akut itu adalah luka yang sembuh dengan proses alamiah, yang seharusnya dia bisa sembuh sekitar empat sampai delapan minggu,” tambahnya.Ketika penyembuhan tidak berjalan semestinya, kategori luka bisa berubah menjadi luka kronis, artinya luka yang mengalami proses sembuh lebih lama.“Kalau proses sembuhnya mengalami gangguan, dia akan menjadi suatu luka yang kronis, yang bisa sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Heri.Faktor yang bisa menyebabkan luka menjadi kronis antara lain infeksi, kekebalan tubuh, hingga penyakit penyerta seperti diabetes.

| 2026-01-15 16:31