JAKARTA, - Pemerintah akan menyiapkan anggaran Rp 30 juta per unit hunian sementara (huntara) bagi korban bencana banjir dan longsor di Pulau Sumatera yakni di Provinsi Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar).Dalam laporannya kepada Presiden Prabowo Subianto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan, rumah yang disiapkan adalah tipe 36 karena dinilai layak bagi korban bencana.“Luasnya tipe 36, 8 kali 5, Bapak Presiden. Jadi daripada mereka tinggal di tenda ini, lebih representatif mereka tinggal di hunian sementara,” ujar Suharyanto, saat rapat koordinasi yang dipimpin Prabowo di Banda Aceh, Minggu .Baca juga: Hadapi Risiko Demonstrasi, Halte Harus Didesain ModularRumah tersebut sudah lengkap dengan dengan fasilitas kamar, sarana Mandi Cuci Kakus (MCK), dan ruangan lainnya.Suharyanto menyebutkan, pembangunan huntara akan dilaksanakan oleh Satuan Tugas (Satgas) TNI-Polri. Salah satu hunian yang bisa dibangun secara cepat adalah hunian modular yang kini mulai merak dipasarkan dan dikembangkan swasta.Mereka menyiapkan solusi untuk membangun rumah yang hanya membutuhkan pembangunan satu hari. Salah satunya PT Gaoshi Building Material Technology.Gaoshi merupakan produsen terintegrasi rumah kontainer dan sistem material bangunan, panel dinding dan atap insulasi styrofoam atau rockwool.Rumah modular yang dibangun Gaoshi hanya membutuhkan dana sebesar Rp 35 juta.Dilansir dari laman resminya, Gaoshi mengeklaim rumah modular yang dikembangkan tahan dari gempa bumi hingga 8 magnitudo, tahan api karena didesain dengan ketebalan 75 mm, tahan angin kencang, serta konstruksi kuat dan anti-karat.Baca juga: Netro, Solusi Rumah Modular Cerdas di Tengah KotaTidak hanya untuk rumah, desainnya tersebut juga cocok untuk kafe modular, kantor kontainer, maupun booth.Sebelumnya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bahkan sejak 2004 telah mengembangkan teknologi serupa yakni Rumah Instan Sederhana Sehat (RISHA).Dirancang sebagai solusi hunian cepat, terjangkau, dan tahan gempa, Risha menggunakan sistem knock-down dengan panel beton modular.Rumah ini telah menjadi alternatif bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan korban bencana alam.RISHA pertama kali diterapkan pada 2006 di Aceh, menyusul tsunami yang menghancurkan ribuan rumah. Keunggulannya adalah waktu pembangunan hanya 24 jam per modul (3x3 meter) dengan tiga pekerja, biaya terjangkau (sekitar Rp 35 juta–Rp 50 juta untuk tipe 33–36), dan ketahanan gempa hingga 8 M.Bahkan saat ini, RISHA telah diintegrasikan dengan teknologi pintar. Pada 2023, Kementerian PU memperkenalkan konsep “Rumah Pintar Risha” yang dilengkapi fitur modern seperti Camera Video Doorbell untuk keamanan.Baca juga: RISHA: Solusi Inovatif Rumah Subsidi Terjangkau Konsep ini diarahkan untuk menyesuaikan Risha dengan era revolusi industri 4.0, menjadikannya tidak hanya murah dan cepat, tetapi juga relevan dengan kebutuhan teknologi cerdas. Fitur ini memungkinkan penghuni memantau tamu dari jarak jauh, meningkatkan aspek keamanan dan kenyamanan.
(prf/ega)
Pemerintah Kucurkan Rp 30 Juta Per Unit Hunian Sementara Korban Banjir
2026-01-12 06:16:32
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:11
| 2026-01-12 04:49
| 2026-01-12 04:35










































