Andai Hitler-Mussolini Menang Perang Dunia II

2026-01-12 05:33:50
Andai Hitler-Mussolini Menang Perang Dunia II
PADA hakikatnya misi dan visi Nasional-Sosialisme dan Fasisme tidak jelek-jelek amat. Sebenarnya kedua aliranisme politik tersebut memiliki niat luhur, bahkan mulia.Namun nahas tak terhindar, mujur tak teraih, kedua tokoh terkemuka kedua isme itu ternyata kalah melawan Sekutu pada Perang Dunia II.Adolf Hitler mati di Führerbunker di bawah markas Kanselir Reich di Berlin, Jerman. Ia bunuh diri pada 30 April 1945, dan jenazahnya bersama istrinya, Eva Braun, dibakar di luar bunker.Sementara dua hari sebelum Hitler, Benito Mussolini tewas karena konon dieksekusi oleh partisan Italia pada 28 April 1945.Setelah itu sejarah ditulis oleh pemenang, maka Nazisme dan Fasisme tenggelam ditelan sejarah sebagai dua aliran politik yang dianggap sesat dan bejat.Meski pada masa pasca-PD II, Generalissimo Franco masih sempat mengglorifikasikan Fasisme sebagai aliran politik terbaik bagi bangsa, negara dan rakyat Spanyol.Sementara Nasionalisme dan Sosialisme masih berjaya termasuk di Indonesia, namun tidak pernah digabung menjadi Nazisme seperti yang dilakukan oleh Hitler.Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya terlebih dahulu kita memelajari apa sebenarnya makna Nazisme dan Fasisme.Menurut ensiklopedi Britannica makna Nasional-Sosialisme atau Nazisme adalah totalitarian movement led by Adolf Hitler as head of the Nazi Party in Germany. In its intense nationalism, mass appeal, and dictatorial rule, Nazism shared many elements with Italian fascism. However, Nazism was far more extreme both in its ideas and in its practice. In almost every respect it was an anti-intellectual and atheoretical movement, emphasizing the will of the charismatic dictator as the sole source of inspiration of a people and a nation, as well as a vision of annihilation of all enemies of the Aryan Volk as the one and only goal of Nazi policy.Sementara menurut ensiklopedi yang sama Fasisme adalah political ideology and mass movement that dominated many parts of central, southern, and eastern Europe between 1919 and 1945 and that also had adherents in western Europe, the United States, South Africa, Japan, Latin America, and the Middle East. Europe’s first fascist leader, Benito Mussolini, took the name of his party from the Latin word fasces, which referred to a bundle of elm or birch rods (usually containing an ax) used as a symbol of penal authority in ancient Rome. Although fascist parties and movements differed significantly from one another, they had many characteristics in common, including extreme militaristic nationalism, contempt for electoral democracy and political and cultural liberalism, a belief in natural social hierarchy and the rule of elites, and the desire to create a Volksgemeinschaft (German: “people’s community”), in which individual interests would be subordinated to the good of the nation. At the end of World War II, the major European fascist parties were broken up, and in some countries (such as Italy and West Germany) they were officially banned. Terkesan ensiklopedi Brittanica berpihak kepada Sekutu sebagai pemenang PD II.Pada hakikatnya aliran politik apapun bebas-nilai karena an sich bukan tujuan, tapi sekadar alat demi mencapai tujuan.Baik-buruknya aliran politik sepenuhnya tergantung bagaimana sang aliran politik dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuaan yang diinginkan oleh penggunanya.Maka wajar apabila Nazisme dan Fasisme dianggap jahat, bahkan evil akibat memang digunakan secara penuh angkara murka oleh Hitler dan Mussolini.Secara andaikatamololis sangat menarik untuk ditelaah oleh para sejarawan dengan eksperimen pemikiran sejarah dengan tema "What If Hitler-Mussolini Won the WW II".Andai kata Hitler-Mussolini menang PD II, bukan mustahil seluruh Eropa sampai Rusia menjadi negara-negara beraliran politik Nazisme dan Fasisme.Demikian pula andaikata Hitler-Mussolini menang, maka naga-naganya ensiklopedi Britannica akan kreatif merekayasa definisi Nazisme dan Fasisme sedemikian rupa agar lebih sesuai dengan kehendak Hitler-Mussolini sebagai pihak yang memenangkan Perang Dunia II.


(prf/ega)