Siapa Menopang Ibu yang Hidup Lebih Lama?

2026-01-11 15:29:15
Siapa Menopang Ibu yang Hidup Lebih Lama?
SETIAP Hari Ibu, kita memuliakan perempuan dengan kata-kata indah. Namun, data demografi justru mengajukan pertanyaan yang lebih keras dan tidak nyaman: jika perempuan hidup lebih lama dibanding laki-laki di seluruh Indonesia, siapa yang menopang kehidupan mereka di usia panjang itu?Angka Harapan Hidup bukan sekadar statistik. Ia adalah isyarat kebijakan, alarm sosial, sekaligus cermin tentang siapa yang selama ini menopang siapa.Data Angka Harapan Hidup (AHH) tahun 2024 menunjukkan perempuan Indonesia rata-rata hidup hingga 74,21 tahun, hampir empat tahun lebih lama dari laki-laki yang berada di angka 70,32 tahun. Pola ini konsisten di seluruh provinsi—tanpa satu pun pengecualian.Dalam ilmu demografi, konsistensi lintas wilayah menandakan faktor struktural, bukan kebetulan (Preston, Heuveline & Guillot, 2001). Pertanyaannya bergeser: umur panjang itu ditopang oleh apa, dan siapa yang menanggung bebannya?Ilmu kesehatan menjelaskan keunggulan biologis perempuan melalui konsep female longevity advantage, mulai dari peran hormon estrogen hingga ketahanan metabolik (Austad & Fischer, 2016).Baca juga: UMP 2026: Formula Upah Baru, antara Kesejahteraan Buruh dan Jurang PHKNamun, Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan bahwa social determinants of health—lingkungan sosial, peran gender, dan perilaku hidup—lebih menentukan panjang usia dibanding faktor biologis semata (WHO, 2008).Dalam konteks Indonesia, perempuan—khususnya ibu—mengembangkan ketahanan hidup bukan melalui fasilitas mewah, melainkan dari kebiasaan sehari-hari: disiplin mengatur hidup, mengelola emosi, dan menjaga keluarga.Model health behavior menjelaskan bahwa perilaku preventif dan kemampuan mengelola stres berpengaruh langsung pada harapan hidup (Glanz et al., 2015). Ketahanan ini bukan bawaan, melainkan hasil latihan panjang.Di balik umur panjang itu, ada peran ekonomi yang jarang disebut. Ibu adalah manajer ekonomi rumah tangga.Dalam teori ekonomi keluarga, peran ini disebut household financial manager—aktor yang menentukan stabilitas konsumsi dan ketahanan keluarga (Becker, 1981).Ibu mengatur belanja, membaca harga pasar, menyesuaikan konsumsi dengan pendapatan, dan memastikan kebutuhan dasar terpenuhi. Ketika inflasi naik, ibu yang mengubah menu. Ketika pendapatan turun, ibu yang mengatur ulang prioritas.Dalam teori konsumsi Keynesian, stabilitas rumah tangga adalah fondasi stabilitas ekonomi makro. Artinya, keputusan kecil ibu yang berulang justru menjaga ekonomi tetap berjalan. Namun kerja ini hampir selalu tidak dihitung sebagai kontribusi ekonomi.Literatur pembangunan menyebut peran ibu ini sebagai care economy—kerja perawatan, pengasuhan, dan pengelolaan kehidupan yang tidak dibayar, tetapi bernilai ekonomi besar (UN Women, 2015).OECD memperkirakan jika kerja perawatan dihitung, nilainya dapat mencapai hingga separuh PDB di banyak negara.Nancy Folbre (2001) melalui teori social reproduction menegaskan bahwa ekonomi formal tidak mungkin bertahan tanpa kerja perawatan.Baca juga: Memahami Purbaya dan Mantra Optimisme


(prf/ega)