Geliat Film Lokal Salatiga: Sinema Sisifus Hidupkan Ruang Kreatif Anak Muda

2026-01-12 06:53:44
Geliat Film Lokal Salatiga: Sinema Sisifus Hidupkan Ruang Kreatif Anak Muda
SALATIGA, - Kabut tipis menutupi bulan yang redup, sementara angin malam Salatiga tak menghalangi kehangatan obrolan muda-mudi mengenai film.Namun bukan film-film box office dengan jutaan penonton yang mereka bicarakan, melainkan film-film lokal yang merekam realitas kota mereka.Suasana hening seketika ketika layar tancap mulai menembakkan cahaya, menandai pemutaran film dimulai.Penonton segera mengambil posisi terbaik untuk menyaksikan film pendek pilihan yang dipersiapkan oleh Klub Sinema Sisifus.Klub Sinema Sisifus merupakan ruang pertemuan antara filmmaker lokal dan penontonnya untuk mendapatkan respons serta menghidupkan ekosistem film daerah.Baca juga: Film Si Buta dari Gua Hantu: Mata Malaikat Mulai Diproduksi Tahun DepanKomunitas ini mulai diinisiasi pada Desember 2018 oleh beberapa mahasiswa yang merasa ruang gerak di kampus terlalu terbatas, sehingga mereka menginisiasi pemutaran film-film karya anak Salatiga.Gery Yunus, salah satu penggagas Klub Sinema Sisifus, menjelaskan, geliat film pendek di Salatiga mengalami fase naik turun.“Sepanjang 2018 hingga 2025, setidaknya terjadi pasang surut dalam ekosistem sinema di Salatiga. Paling terasa memang saat pandemi (2020–2022), bagaimana ruang gerak dalam pemutaran publik cukup terbatas, jumlah film sedikit, serta regenerasi yang tidak terjadi,” ujarnya.Meski begitu, Gery menilai bahwa ekosistem film Salatiga tidak pernah benar-benar mati.“Sehingga ada masa di mana perfilman terasa sangat bergairah, tetapi ada juga yang landai. Namun, sebenarnya, iklim film di Salatiga tidak pernah benar-benar tiarap. Hanya tidak saling terhubung saja,” ujarnya saat diwawancarai Kompas.com, Minggu .Menurut Gery, film pendek adalah media alternatif untuk membicarakan kota dan lokalitas.“Sekarang sudah banyak film pendek yang memiliki kesadaran dalam merekam kota… menjadikannya sebagai subyek yang turut berdialog di dalamnya. Bagaimana masa perubahan juga ikut membawa bahasa sinema yang turut beralih juga tampak dalam film-film Salatiga sekarang ini,” jelasnya.Gery juga mengapresiasi perkembangan film di Salatiga sebagai wadah kreativitas generasi muda.“Salatiga sendiri, bagaimana solidaritas dan jejaring dari aktivisme, seni, serta intelektual, membangun gaya baru dalam melakukan pendekatan melalui film… film memiliki kekuatan untuk berdialog dengan seluruh ekosistem kota,” jelasnya.Pemutaran film Klub Sinema Sisifus diadakan sebulan sekali, berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan filmmaker dari berbagai daerah.


(prf/ega)