"Update" Banjir dan Longsor Sumut: 37 Orang Tewas, 52 Hilang

2026-02-03 00:38:42
MEDAN, - Polda Sumatera Utara (Sumut) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengeluarkan data terbaru terkait korban banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera Utara sejak tiga hari terakhir. Total korban tewas mencapai 37 orang.Menurut data terbaru dari Polda Sumut, Kabupaten Tapanuli Selatan mencatatkan jumlah korban tewas terbanyak mencapai 17 orang.Diikuti Kota Sibolga dengan 8 orang, Kabupaten Tapanuli Tengah 4 orang, Humbang Hasundutan 4 orang, Pakpak Bharat 2 orang, dan Nias Selatan 1 orang.Baca juga: Korban Banjir dan Longsor Sumut Bertambah: 32 Orang Meninggal, Ribuan MengungsiSementara itu, BPBD Padangsidimpuan melaporkan satu orang tewas di wilayahnya.Kepala Bidang Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan mengungkapkan, selain jumlah korban tewas, sebanyak 52 orang warga masih dalam pencarian."Sementara itu, 1.168 warga tercatat mengungsi di berbagai lokasi," ujar Ferry dalam keterangan tertulisnya.Ferry menambahkan, banjir dan longsor juga melanda Mandailing Natal, Langkat, Deli Serdang, dan Kota Medan.Dalam upaya penanganan, Polda Sumut mengerahkan 1.030 personel gabungan dari berbagai satuan, termasuk Satwil, Dit Samapta, Sat Brimob, Bid TIK, dan Biddokkes.Dia menegaskan, data yang dirilis merupakan update sementara, mengingat beberapa wilayah masih belum dapat menyampaikan laporan lengkap akibat hujan deras yang merata di banyak titik dan terhambatnya akses lapangan."Data ini bersifat sementara. Beberapa wilayah seperti Medan, Deli Serdang, dan sejumlah daerah lainnya belum dapat melaporkan kondisi secara menyeluruh karena hujan tidak berhenti dan beberapa akses masih terputus. Polda Sumut akan terus memperbarui data secara berkala," jelasnya.Ferry juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan longsor dan bantaran sungai."Kami meminta masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Bila situasi mengancam keselamatan, segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman atau menuju posko darurat terdekat," tutup Ferry.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-03 00:27