Relawan Difabel pun Ingin Bantu Korban Banjir Sumatera, Siap Diberangkatkan dari DIY

2026-01-12 06:09:52
Relawan Difabel pun Ingin Bantu Korban Banjir Sumatera, Siap Diberangkatkan dari DIY
KULON PROGO, – Di tengah upaya penanganan bencana banjir Sumatera, relawan difabel dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyatakan kesiapan ikut turun membantu penyintas.Ketua Difabel Siaga Bencana (Difagana) DIY, Dodi Kurniawan Kaliri, mengatakan relawan difabel mampu memainkan peran penting karena pendekatan sebaya efektif dalam memulihkan mental penyintas, khususnya difabel.“Trauma healing dari difabel kepada difabel itu berbeda efektivitasnya. Pendampingan dengan pendekatan sebaya jauh lebih mengena,” ujar Dodi saat ditemui dalam peringatan Sewindu Difagana di Kulon Progo.Baca juga: Gibran Minta Anak, Ibu Hamil, Difabel, hingga Lansia Korban Banjir Sumatera DiprioritaskanMenurutnya, kehadiran relawan difabel di pengungsian kerap membuat penyintas merasa dipahami, terhubung, dan terdorong untuk bangkit.“Kadang kehadiran kami saja sudah membangun optimisme. Penyintas melihat kami datang dari jauh, sesama difabel, dan itu memberi dorongan yang sangat kuat,” katanya.Difagana terus memperkuat kapasitas relawannya melalui pelatihan pendirian tenda, dapur umum, manajemen logistik, komunikasi radio, serta layanan psikososial dan trauma healing.Difagana merupakan relawan difabel di bawah jejaring Tagana (Taruna Siaga Bencana). Karena itu mekanisme pemberangkatan tim mengikuti kebutuhan Kementerian Sosial.Namun Dodi menegaskan setidaknya empat relawan difabel DIY sudah menyatakan siap berangkat kapan pun diminta.“Kami sudah meminta kesediaan anggota, dan empat orang siap berangkat. Mereka semua difabel fisik—ada yang menggunakan kruk, ada yang memakai brace. Mereka sudah terlatih,” ujarnya.Baca juga: Perjuangan Warga Aceh Tamiang Bertahan 8 Hari tanpa Bantuan Pemerintah: Hanya Warga Bantu WargaJika diterjunkan, para relawan akan bergabung bersama tim Tagana di lokasi bencana dan ditempatkan di wilayah pengungsian yang aman, dengan tugas utama memberi dukungan psikososial dan memulihkan semangat penyintas.Salah satu relawan yang telah siap diberangkatkan adalah Hardi (52) dari Kulon Progo. Ia bukan pendatang baru dalam misi kemanusiaan, karena pernah terlibat dalam respons likuifaksi Palu.“Kami bertemu banyak difabel baru pascabencana—yang patah tulang, cedera, atau berisiko cacat. Kami beri semangat dulu, lalu menilai alat bantu apa yang dibutuhkan,” kata Hardi.Ia juga membantu anak-anak difabel kembali bersekolah dengan menghubungkan mereka ke Dinas Pendidikan.“Banyak anak difabel yang sekolahnya terputus. Kami bantu carikan solusi supaya mereka bisa melanjutkan belajar,” ujarnya.Baca juga: Bupati Luwu Galang Donasi saat Ngopi: 30 Menit Raup Rp 152 Juta untuk Korban Bencana SumateraDodi menyebut relawan difabel menghadapi tantangan mobilitas dan keharusan meninggalkan keluarga, sehingga diperlukan dukungan pemerintah agar keluarga tetap aman secara ekonomi.“Yang penting adalah niat relawan. Kami memastikan keluarga mereka aman dulu, baru mereka bisa fokus bekerja di lapangan,” katanya.Dengan kesiapan tersebut, Difagana ingin menegaskan bahwa difabel bukan hanya kelompok penerima bantuan dalam bencana, tetapi juga sumber kekuatan yang bisa ikut menyelamatkan orang lain.


(prf/ega)