Sisa Banjir Aceh Tamiang: Truk Bertumpuk-Rumah Bergeser ke Jalan

2026-01-14 12:19:44
Sisa Banjir Aceh Tamiang: Truk Bertumpuk-Rumah Bergeser ke Jalan
Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, menjadi salah satu wilayah terdampak banjir bandang dan longsor di Provinsi Aceh. Banjir kini sudah surut, tapi tersisa lumpur yang sempat merendam wilayah tersebut.detikcom menelusuri Desa Sukajadi, pada Kamis (11/12/2025), lokasi tempat bencana banjir bandang dan longsor terjadi. Dari Kota Medan, Sumatera Utara, ke wilayah tersebut ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam jalur darat.Dari gapura perbatasan Kota Medan-Aceh Tamiang mulai terlihat tenda-tenda pengungsi sederhana berdiri di pinggir jalan. Tenda hanya dengan terpal yang tampak didirikan sendiri oleh warga. Di bawahnya, bertumpuk baju-baju bantuan, kardus mi instan, dan beberapa selimut tipis.Lalu lintas ramai oleh truk-truk besar yang membawa logistik. Di sepanjang jalan, terlihat warga berdiri memegang kardus seraya meminta sedikit bantuan dari kendaraan yang lewat.Di beberapa titik, rumah penduduk tampak miring, bahkan sebagian bergeser hingga masuk ke badan jalan. Rumah berbahan kayu paling banyak menjadi korban: dinding terlepas, pondasi hanyut, dan perabotan berserakan.Sementara itu, rumah beton masih berdiri, meski pagar dan gentengnya tampak rusak diterjang arus. Lumpur yang mengering membentuk lapisan tebal berwarna cokelat di setiap sudut jalan.Pepohonan yang dulu hijau kini berubah warna, tertutup debu dan lumpur. Di beberapa titik, banjir lumpur basah masih menggenang.Di antara reruntuhan itu, sebuah pemandangan mencolok yang memperlihatkan dua truk tangki terseret banjir hingga bertumpuk satu sama lain.Saat melewati kawasan Kuala Simpang, suara selang air terdengar di mana-mana. Warga membersihkan ruko dan kendaraan yang terendam hingga tak terlihat bentuk aslinya. Pasokan air sudah masuk, memberikan sedikit harapan.Begitu mendekati jembatan besi menuju Sukajadi, puluhan tenda pengungsian berdiri berjejer. Dapur umum Polri dan TNI menempel tak jauh dari sana. Ada juga posko kesehatan yang berdiri di lokasi tersebut.Para pengungsi mayoritas warga Sukajadi. Mereka terlihat memilih baju bantuan, mengantre makanan, atau sekadar duduk menatap kampung mereka yang kini hancur. Sementara, anak-anak berlari-larian di sekitar tenda,Untuk diketahui, Desa Sukajadi berada di dataran yang lebih rendah dengan jalan utama. Dari atas jembatan, Sukajadi tampak seperti hamparan rusuk kayu.Rumah-rumah yang terbuat dari papan rata dengan tanah, hanya menyisakan tiang yang patah. Tumpukan kayu gelondongan yang terbawa arus dari hulu menutupi sebagian besar area desa, bercampur dengan kasur, perabot, dan pakaian warga. Di sinilah Desi (45), salah satu warga yang selamat, berdiri sambil memandangi sisa rumahnya. Desi masih mengingat jelas hari ketika banjir bandang datang."Di sini pertama hujan 4 hari berturut turut, kalau tidak salah dari 21 sampai akhirnya 25 November, sebelum hujan itu ada angin kencang, barulah besoknya (26 November) air naik," ujarnya."Kami nengok-nengok berita rupanya air dari atas (sungai Tamiang) sudah tinggi, harus waspada kami, tapi kami tidak berpikir setinggi yang kami perkirakan, jadi saya masih bertahan di rumah, karena tidak pernah air setinggi itu sebelumnya," lanjut Desi.Wilayah itu sempat terisolasi beberapa hari karena akses terputus. Bantuan akhirnya mulai masuk pada 1 Desember 2025. Desi kini bersyukur bantuan listrik hingga air bersih sudah mulai masuk meskipun terbatas.Tonton juga video "Tindak Lanjut Menteri Lingkungan Hidup Evaluasi Bencana Banjir Sumatera"[Gambas:Video 20detik]


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 11:47