Andil Perbankan di Balik Bencana Ekologis Sumatera

2026-01-12 06:42:54
Andil Perbankan di Balik Bencana Ekologis Sumatera
JAKARTA, - Perbankan diduga memiliki andil dalam bencana ekologis Sumatera dengan menggelontorkan pembiayaan ke bisnis ekstraktif yang tinggi risiko. Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan Indonesia atau TuK Indonesia Abdul Haris melaporkan, terdapat sekurang-kurangnya tujuh perusahaan yang terlibat aktif melakukan eksploitasi di Sumatera Utara. Perusahaan-perusahaan tersebut juga dihubungkan sebagai salah satu penyebab terjadi bencana di Sumatera. “Bencana ekologis ini menunjukkan bahwa risiko lingkungan yang diabaikan pada akhirnya berubah menjadi beban sosial dan ekonomi yang harus ditanggung publik,” kata dia dalam Konferensi pers Jejak Pembiayaan di Balik Bencana Ekologis Sumatera, Senin .Baca juga: Anggaran Cetak Ulang 11.000 Hektar Sawah Terdampak Banjir Sumatera Rp 400 M Ia menjabarkan, di balik kerusakan ekologis tersebut, aliran pembiayaan ke perusahaan-perusahaan di Sumatera terus berlangsung dalam skala besar. Data Forests & Finance menunjukkan bahwa dalam periode 2014–2025, total pembiayaan yang terdeteksi mengalir ke sejumlah perusahaan di sektor berisiko di Sumatera mencapai 42,9 miliar dollar AS. Jumlah tersebut terdiri dari pinjaman sebesar 16,9 miliar dollar AS dan pembiayaan penjaminan (underwriting) sebesar 26,1 miliar dollar AS. Aliran dana ini tetap terjadi di tengah meningkatnya risiko ekologis dan konflik sosial di wilayah operasi perusahaan.Baca juga: BRIN: Ekonomi RI 2026 Tumbuh 4,9-5,2 Persen, Terhambat Bencana-NakerSHUTTERSTOCK/FRANK11 Ilustrasi bank. Adapun, bank yang memberikan pembiayaan untuk perusahaan-perusahaan tersebut didominasi oleh bank yang berasal dari China. Adapun perbankan dari negara seperti Jepang Singapura, hingga Inggris juga diduga turut menyalurkan pembiaya ke sektor dengan risiko tinggi tersebut. "Bank-bank ini dominasi dari institusi pembiayaan atau bank ini adalah bank yang berasal dari China dan menduduki peringkat paling pertama adalah bank dari China," ungkap dia. Ia menambahkan, data tersebut menunjukkan bahwa investasi atau pembiayaan asing memiliki peran besar dalam industri ekstraktif di Indonesia. Hal serupa sebenarnya juga terjadi pada industri ekstraktf lain misalnya adalah yang terjadi pada komoditas nikel di Maluku Utara. "Ada banyak sekali bank China di sana terlibat pembiayaan," imbuh dia.Baca juga: Jejak Perbankan China di Balik Bencana Ekologis Sumatera Hal serupa yang terasa adalah adanya kerusakan lingkungan yang masif terkait dengan segmen pembiayaan tersebut. Seiring dengan itu, himpunan bank milik negara (Himbara) juga tampak masih menyalurkan pembiayaan ke beberapa perusahaan yang melakukan eksplorasi di Sumatera tersebut. Untuk itu Haris berharap publik membangun kesadaran dan meminta kepada perbankan untuk meninjau ulang pembiayaan yang memiliki potensi perusakan lingkungan tersebut. "Kita bisa memberikan tekanan pada institusi keuangan bahwa pembiayaan yang kalian salurkan kepada perusahaan di Sumatera itu memiliki risiko yang tinggi terhadap kerusakan hutan," ungkap dia.Baca juga: Bencana Sumatera Jadi Ujian Akhir Pertumbuhan Ekonomi RI 2025?


(prf/ega)

Berita Terpopuler