Harga Cabai di Sumenep Naik, Warga Diimbau Tidak "Panic Buying"

2026-01-14 14:25:51
Harga Cabai di Sumenep Naik, Warga Diimbau Tidak
SUMENEP, - Memasuki pertengahan Desember 2025, harga telur dan cabai mulai naik di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.Di Pasar Tradisional Kecamatan Gapura, harga telur tercatat mencapai Rp 32.500 per kilogram. Sedangkan harga cabai kecil melonjak hingga Rp 95.000 per kilogram.Sementara itu, di Pasar Tradisional Anom, Kecamatan Kota Sumenep, harga telur Rp 32.000 per kilogram, dan harga cabai kecil terpantau berada di kisaran Rp 75.000 per kilogram.Padahal sebelumnya, harga telur hanya berkisar Rp 28.000 per kilogram. Sedangkan harga cabai kecil sebelumnya kisaran Rp 30.000 per kilogram.Baca juga: Harga Cabai di Semarang Rp 90.000 per Kilogram, Pemkot Sebut Rantai Pasok Jadi PenyebabSeorang pembeli di pasar tradisional Gapura, Mina, mengatakan bahwa kenaikan harga sudah terjadi sekitar sepekan.“Kenaikan harga ini sudah terjadi sekitar seminggu lebih,” kata Mina kepada Kompas.com, Kamis .Menurut Mina, kenaikan harga itu membuatnya harus lebih berhitung saat belanja.“Karena harga naik, saya terpaksa mengurangi konsumsi telur dan cabai,” ujarnya.Pembeli lainnya di Pasar Anom Baru, Halima, mengatakan bahwa dia sudah memahami pola naik-turun harga menjelang akhir tahun.“Memang setiap akhir tahun ada saja kebutuhan dapur yang ikut naik,” katanya kepada Kompas.com.“Saya sudah terbiasa menghadapi kondisi seperti ini menjelang pergantian tahun,” ujarnya lagi.Baca juga: Mendag Cek Pasar di Pontianak: Klaim Harga Stabil, Bawang di Bawah AcuanSementara itu, Kepala UPT Pasar Anom Baru Kecamatan Kota Sumenep, Ibnu Hajar mengatakan bahwa  kenaikan harga kerap terjadi menjelang hari besar.“Kenaikan harga seperti ini memang sering terjadi saat Natal dan Tahun Baru,” kata Ibnu.Menurut dia, lonjakan itu tidak selalu berkaitan dengan pasokan. Tetapi, karena momentum sejumlah hari besar.“Biasanya kenaikan bukan karena stok kurang, tapi karena momennya saja,” ujarnya.Ibnu menjelaskan, harga biasanya kembali stabil setelah momen libur berakhir.Dia pun memperkirakan bahwa harga akan kembali stabil pada akhir bulan atau awal tahun mendatang.Kemudian, Ibnu mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aksi borong. Sebab, perilaku tersebut justru dapat memicu lonjakan harga.“Diharapkan warga tidak panic buying. Kalau terjadi panic buying, harga bisa makin melambung,” kata Ibnu.Baca juga: Harga Cabai di Sidoarjo Tembus Rp 100.000 per Kg, Pedagang Keluhkan Pembeli Berkurang


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-14 14:50