Atap Rumah Lantai 3 di Puncak Bogor Ambruk Saat Hujan Deras, 1 Orang Terluka

2026-02-08 18:53:57
Atap Rumah Lantai 3 di Puncak Bogor Ambruk Saat Hujan Deras, 1 Orang Terluka
BOGOR, - Atap rumah tiga lantai di Kampung Cinangka, Desa Cipayung Girang, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, ambruk akibat hujan deras disertai angin kencang pada Rabu sore.Peristiwa ini menyebabkan satu penghuni terluka pada bagian kepala.Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor Adam Hamdani menyatakan, kejadian terjadi sekitar pukul 16.30 WIB.Saat itu, hujan deras disertai angin kencang melanda wilayah Puncak."Pemilik rumah sedang membersihkan lantai yang basah akibat atap bocor. Tiba-tiba atap bangunan rumah setinggi tiga lantai ambruk dan menimpa korban," kata Adam saat dikonfirmasi, Kamis .Baca juga: Saat Terlelap, Rumah Nenek Poniyem di Jember Hancur Diterjang Hujan, Atap AmbrukKorban luka, Kafron (48), mengalami luka sobek pada kepala akibat tertimpa reruntuhan atap dan segera dibawa ke Rumah Sakit Ciawi untuk penanganan medis.Rumah yang terdampak dihuni tiga kepala keluarga dengan total 12 jiwa. Kerusakan meliputi bagian toilet, dapur, dan kamar akibat ambruknya atap.BPBD Kabupaten Bogor menerima laporan kejadian pada pukul 18.30 WIB.Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD bergerak dari Pos PB Gadog pada pukul 19.40 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 20.00 WIB untuk melakukan penanganan."Petugas melakukan koordinasi dengan aparat setempat, assessment, analisis kondisi, serta memberikan edukasi dan imbauan kebencanaan kepada warga," ujar Adam.Hingga penanganan awal selesai, rumah terdampak masih dihuni pemiliknya. Material bangunan yang ambruk dibersihkan secara gotong royong.Adam menambahkan, analisis sementara menyebutkan kejadian ini dipicu curah hujan tinggi dan kondisi struktur bangunan yang sudah rapuh serta kurang kokoh.Kebutuhan mendesak yang tercatat adalah logistik tanggap darurat dan terpal.Adam memastikan tidak ada warga yang mengungsi maupun fasilitas umum yang terdampak dalam peristiwa tersebut.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Bersamaan dengan hal tersebut, pemateri sekaligus psikolog, Muslimah Hanif mengatakan, hasil dari rapid asesmen yang dilakukan menunjukkan lebih dari 50 persen peserta menunjukkan emosi cenderung sedih.Ada sebagian dari mereka menunjukkan hasil emosi senang karena dapat bermain dan berjumla dengan teman-temannya.Hasil lain juga didapat dari wawancara informal dengan kepala sekolah dan guru. Sebagian besar dari mereka masih merasa cemas dan memerlukan bantuan untuk mengurangi rasa khawatir terkait dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu serta dampak dari bencana yang terjadi, ujar Muslimah.Selanjutnya, Kemendikdasmen juga akan melakukan pendampingan psikososial di beberapa titik lokasi bencana. Dengan harapan, warga satuan pendidikan terdampak bencana tetap semangat dan terbangun rasa senang dalam proses pembelajaran.DOK. KEMENDIKDASMEN Mendikdasmen Abdul Mu?ti saat mengajak siswa menyanyi bersama di tenda darurat Dusun Suka Ramai, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara .Pemulihan psikologis murid menjadi langkah penting sebelum proses belajar-mengajar dimulai kembali. Tanpa penanganan tepat, trauma ini dapat berkembang menjadi gangguan jiwa serius di kemudian hari dan menghambat potensi anak-anak dalam jangka panjang.Anak-anak dan remaja adalah kelompok sangat rentan terhadap trauma pascabencana. Mengalami banjir, kehilangan rumah, harta benda, atau bahkan orang yang dicintai dapat memicu gangguan kesehatan mental.Baca juga: Kementrans Monitoring Kawasan Transmigrasi Terdampak Banjir SumateraPenting juga untuk diingat bahwa guru juga menjadi korban dan mengalami trauma. Guru yang lelah secara emosional atau mengalami trauma sendiri tidak akan siap untuk mengajar secara efektif, yang pada akhirnya memengaruhi siswa.Dukungan tepat dan berkelanjutan sangat penting agar anak-anak dapat memproses trauma yang mereka alami, bangkit kembali, dan melanjutkan tugas perkembangan mereka dengan baik.

| 2026-02-08 17:54