FENOMENA hujan selama ini dipahami sebagai bagian dari dinamika hidrologis yang menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan.Namun, temuan terbaru dari lembaga Ecoton mengindikasikan adanya perubahan mendasar dalam proses tersebut.Indikasi keberadaan mikroplastik di atmosfer Surabaya membuka kemungkinan bahwa air hujan kini membawa partikel yang tidak semestinya berada dalam sistem alam.Temuan ini menuntut perhatian serius. Polusi plastik tidak lagi terbatas pada sungai dan laut, tetapi telah memasuki ruang atmosfer—ruang yang selama ini dianggap relatif terlindungi dari kontaminasi padat.Dalam rentang pengamatan Mei hingga Juli 2025, di 18 kota Indonesia, Ecoton menemukan bahwa mikroplastik di udara didominasi oleh fragmen sebesar 53,26 persen dan fiber sebesar 46,14 persen.Film plastik hanya 0,6 persen, tetapi kehadirannya tetap menandai bocornya limbah plastik sekali pakai ke udara.Baca juga: Benang Kusut Persoalan PPPK Jadi PNSAnalisis FTIR menunjukkan polimer seperti PET, nilon, polipropilena, resin berbasis BPA, PTFE, hingga polyisobutylene—material yang identik dengan botol minuman, pakaian sintetis, teknologi kemasan, dan komponen industri harian.Di Surabaya, pemantauan lapangan menunjukkan sekitar 12 partikel mikroplastik dalam sampel udara dua jam sekali—terdiri dari lima fiber dan tujuh fragmen.Angka ini tampak kecil secara kasatmata, tetapi secara lingkungan, akumulasi polutan mikro jauh lebih signifikan daripada jumlah sesaat. Partikel-partikel ini dapat tersuspensi di atmosfer, terbawa angin, lalu kembali turun bersama embun atau hujan.Fenomena “plastic rain” sebenarnya telah diamati di berbagai kota dunia. Di Indonesia, temuan Ecoton memberikan indikasi awal bahwa proses serupa mungkin terjadi di Surabaya—kota besar dengan aktivitas industri, transportasi, dan konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi.Paparan mikroplastik bukan hanya soal partikel di udara. Survei Ecoton di Sungai Surabaya–Gresik menemukan serat mikroplastik di organ kepiting Parathelphusa convexa. Artinya, mikroplastik sudah menembus rantai makanan di wilayah urban dan pesisir.Dalam pengujian terhadap sampel organ dan cairan tubuh manusia di acara SDGs Fest Universitas Airlangga, Ecoton menemukan bahwa 35,79 persen partikel mikroplastik dalam tubuh berasal dari PET, 19,38 persen dari styrofoam, 13,11 persen dari sachet plastik multilayer, serta proporsi signifikan lainnya dari PP, LDPE, dan HDPE.Yang paling mencemaskan, mikroplastik ditemukan dalam cairan amnion dan plasenta, menandai paparan sejak tahap kehidupan paling awal.Berbagai penelitian global mengingatkan bahwa mikroplastik dapat memicu inflamasi, mengganggu sistem endokrin, hingga membawa logam berat yang menempel di permukaan partikel.Efeknya tidak selalu langsung, tetapi berkembang secara perlahan, membebani tubuh manusia dari dalam tanpa disadari.
(prf/ega)
Surabaya dalam Ancaman Hujan Mikroplastik
2026-01-11 03:30:52
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:45
| 2026-01-11 03:39
| 2026-01-11 03:05
| 2026-01-11 02:37
| 2026-01-11 02:32










































