Fenomena Aneh: Hiu Paus Muda Makin Sering Terdampar di Indonesia, Naik Lima Kali Lipat Sejak 2020

2026-02-04 04:57:57
Fenomena Aneh: Hiu Paus Muda Makin Sering Terdampar di Indonesia, Naik Lima Kali Lipat Sejak 2020
- Riset yang dilakukan sejumlah lembaga pemerintah dan Konservasi Indonesia menemukan peningkatan fenomena hiu paus (Rhincodon typus) terdampar di Indonesia yang didominasi satwa yang berusia muda.Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata di Jakarta, Rabu, menjelaskan bahwa studi kerja sama dengan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), lembaga pendidikan dari Universitas Indonesia dan Universitas Diponegoro, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta Elasmobranch Institute Indonesia itu telah diterbitkan di jurnal Scientific Reports."Dalam analisis temporal atau berkala, kami juga menemukan adanya peningkatan tajam dalam jumlah kasus keterdamparan sejak 2020, dengan rata-rata kenaikan sekitar dua kasus per tahun. Sebelum 2020, Indonesia mencatatkan sekitar empat kasus keterdamparan per tahun, namun angka ini melesat menjadi 22 kasus per tahun setelahnya," kata Iqbal.Studi itu mengidentifikasi tren dan pola kejadian keterdamparan hiu paus di Indonesia periode 2011-2023. Temuan utama dalam studi ini adalah tingginya jumlah kejadian keterdamparan yang tercatat dalam kurun waktu 12 tahun penelitian.Hingga saat ini telah terindikasi 115 kejadian keterdamparan yang melibatkan 127 individu hiu paus yang tersebar di 23 provinsi di Indonesia. Angka itu melampaui laporan keterdamparan global sebelumnya.Iqbal memaparkan lebih dari 70 persen individu terdampar adalah hiu paus muda atau juvenil berukuran antara empat hingga tujuh meter, yang merupakan kelompok penting bagi pemulihan populasi.Fenomena itu menunjukkan adanya kecenderungan memprihatinkan, terutama karena juvenil adalah tahap vital dalam siklus hidup spesies tersebut, dan sangat krusial bagi keberlanjutan populasi hiu paus di wilayah regional Indo-Pasifik.Lebih lanjut, Iqbal mengatakan studi itu juga mengungkap adanya pola signifikan terkait keterdamparan hiu paus yang dipengaruhi kuat oleh faktor oseanografi.Salah satu temuan penting menunjukkan bahwa banyak kasus keterdamparan terjadi pada saat musim tenggara dan transisi pada periode Juni-November, periode yang bertepatan dengan peristiwa upwelling atau perubahan kondisi penurunan suhu permukaan laut dan peningkatan produktivitas laut, yang memengaruhi pergerakan dan distribusi hiu paus.Baca juga: Laut Asam Melemahkan Gigi Hiu, Ancaman Baru bagi Predator PuncakBerdasarkan data penelusuran pergerakan hiu paus yang bermigrasi ke wilayah selatan Jawa dari berbagai lokasi seperti Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat, Australia Barat, dan Kepulauan Christmas di Australia menghadapi tekanan atau ancaman tertentu, yang pada akhirnya dapat menyebabkan terjadinya insiden keterdamparan.Sementara itu, fakta menarik lainnya dari studi ini adalah sebagian besar hiu paus di Indonesia dilaporkan terdampar dalam kondisi masih hidup, dengan total 52 kasus. Kondisi itu lebih sering terjadi dibandingkan hiu paus yang ditemukan baru mati, yang tercatat dalam 46 kasus.Peneliti BRIN, Fahmi mengatakan temuan itu memberi gambaran jelas tentang kondisi hiu paus di Indonesia sebagai kawasan penting bagi kelangsungan hidup juvenil. Peningkatan kasus keterdamparan menjadi alarm serius, baik secara nasional maupun internasional, untuk segera memperkuat langkah-langkah mitigasi.“Salah satu upaya kunci adalah membangun jaringan respons cepat dengan mengintegrasikan data berbasis komunitas dan media lokal ke dalam literatur ilmiah guna mendukung pendataan hiu paus dunia," ujar Fahmi seperti dikutip Antara.Dalam pernyataan yang sama, Direktur Konservasi Spesies dan Genetik, Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP, Sarmintohadi berpendapat hasil studi itu sangat strategis untuk mendukung perencanaan konservasi nasional."Identifikasi titik dan musim rawan keterdamparan memberi dasar ilmiah untuk menyusun Rencana Aksi Nasional Hiu Paus, memperkuat jaringan respons cepat, serta mengintegrasikan mitigasi ancaman dari tabrakan kapal, pencemaran pesisir, dan interaksi manusia melalui perikanan," ujarnya.Sarmintohadi menambahkan upaya melindungi hiu paus juvenil di Indonesia adalah investasi bagi keberlanjutan spesies ini. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya menjaga kekayaan laut sendiri, tetapi juga berkontribusi pada upaya konservasi hiu paus dunia.Baca juga: Populasi Hiu Paus Kian Terancam, Dibutuhkan Rencana Aksi Nasional Baru


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-02-04 03:54