Mewaspadai Fenomena Ghost Rich di Kalangan Anak Muda

2026-01-12 03:41:33
Mewaspadai Fenomena Ghost Rich di Kalangan Anak Muda
DI ERA media sosial, kekayaan bukan lagi sekadar soal saldo di rekening atau aset yang tercatat rapi dalam laporan keuangan.Kekayaan kini juga terkait persepsi, citra, dan apa yang tampak di layar ponsel seperti mobil mewah, jam tangan berharga ratusan juta rupiah, liburan ke luar negeri, kopi mahal di kafe estetik, hingga gaya hidup yang seolah tanpa batas.Namun, di balik kilau itu, muncul fenomena yang kian menguat, yaitu ghost rich: orang-orang tampak kaya, hidup seperti kaum berada, tetapi sejatinya tidak memiliki fondasi kekayaan yang nyata dan berkelanjutan.Fenomena ghost rich bukan sekadar cerita pinggiran, karena hadir di tengah masyarakat perkotaan, kelas menengah, bahkan kalangan profesional dan anak muda terdidik.Fenomena ini menjadi gejala sosial-ekonomi yang mencerminkan perubahan cara manusia memaknai sukses, kemapanan, dan kebahagiaan.Ghost rich bukan berarti sepenuhnya miskin, tetapi hidup dalam ilusi kekayaan di mana kaya secara tampilan, rapuh secara realitas.Tulisan ini mencoba membaca fenomena ghost rich secara lebih dalam mulai dari akar sosiologis dan psikologisnya, peran media sosial dan budaya konsumsi, hingga dampaknya terhadap ekonomi rumah tangga, stabilitas sosial, dan masa depan generasi muda.Istilah ghost rich secara harfiah dapat dimaknai sebagai “kaya bayangan”. Mereka tampak seperti orang kaya yang terlihat dari cara berpakaian, gaya hidup, tempat nongkrong, kendaraan, bahkan pergaulan.Baca juga: 2026: Tahun Milik RakyatNamun, kekayaan itu tidak memiliki substansi karena tidak ada akumulasi aset produktif, tidak ada ketahanan finansial, dan sering kali tidak ada cadangan menghadapi guncangan ekonomi.Ghost rich berbeda dengan orang miskin yang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Mereka juga berbeda dengan orang kaya baru yang tengah menikmati hasil kerja keras atau lonjakan ekonomi.Ghost rich berada di wilayah abu-abu, yaitu penghasilan mungkin cukup, bahkan di atas rata-rata, tetapi seluruhnya habis untuk menopang gaya hidup agar “terlihat kaya”.Dalam banyak kasus, kekayaan ghost rich ditopang oleh utang konsumtif -seperti kartu kredit, paylater, pinjaman daring, cicilan jangka panjang untuk barang simbol status, pendapatan tidak stabil yang dipaksakan untuk hidup mewah, dan ketiadaan perencanaan keuangan jangka panjang.Mereka hidup dari satu gaji ke gaji berikutnya, dari satu proyek ke proyek lain, dengan tekanan besar untuk mempertahankan citra.Platform media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube telah melahirkan apa yang bisa disebut sebagai ekonomi pencitraan. Dalam ekonomi ini, nilai seseorang sering kali diukur dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang benar-benar dimiliki.Media sosial mendorong budaya pamer (flexing), baik secara terang-terangan maupun terselubung. Foto liburan, video unboxing barang mewah, hingga unggahan gaya hidup telah membentuk standar sosial baru.Dalam ekosistem ini, kemapanan tidak perlu dibuktikan dengan stabilitas finansial, cukup dengan visual meyakinkan.Algoritma media sosial memperparah keadaan. Konten yang menampilkan kemewahan cenderung mendapat atensi lebih besar.Akibatnya, banyak orang terdorong untuk meniru gaya hidup tersebut, meski kemampuan finansialnya tidak sebanding.Di sinilah ghost rich menemukan panggungnya: mereka membangun identitas digital yang jauh lebih “kaya” daripada kondisi nyata.Fenomena ghost rich sangat kuat di kelas menengah. Kelompok ini berada dalam posisi unik, yaitu tidak miskin, tetapi juga belum mapan. Mereka memiliki akses pendidikan, pekerjaan formal, dan teknologi, tapi rentan terhadap tekanan sosial untuk “naik kelas”.


(prf/ega)