Kisah Al Kasyaf Bertahan Hidup demi Yatim dan Dhuafa hingga Jadi SPPG Percontohan Nasional Berbasis UMKM

2026-01-12 15:19:05
Kisah Al Kasyaf Bertahan Hidup demi Yatim dan Dhuafa hingga Jadi SPPG Percontohan Nasional Berbasis UMKM
BANDUNG, – Di bawah kaki Gunung Manglayang, Cileunyi, Bandung, sebuah pesantren kecil perlahan menjelma menjadi penggerak ekonomi rakyat.Yayasan Al Kasyaf Bandung, yang sejak awal berdiri untuk merawat yatim dan dhuafa, kini menjadi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) percontohan nasional yang menggerakkan puluhan UMKM lokal dalam Program Makan Bergizi (MBG).Perjalanan itu tidak singkat, apalagi mudah. Sejak 2013, Alkasyaf menapaki jalan panjang penuh percobaan, kegagalan, dan keteguhan untuk bertahan.Baca juga: 105 SPPG di Aceh Jadi Dapur Umum, 562.676 Porsi Disalurkan ke Warga Christiyanti Nour M dari Yayasan Al Kasyaf Bandung mengenang, pesantren ini sejak awal tidak pernah bergantung pada satu sumber penghidupan.Berbagai bidang dicoba, namun pandemi Covid-19 menjadi ujian berat yang hampir melumpuhkan usaha yang ada.Alih-alih menyerah, Al Kasyaf membaca kebutuhan zaman.“Kami kemudian membaca peluang apa yang dibutuhkan untuk Covid, seperti pembuatan masker,” ujar Christiyanti di Bandung, Senin . Langkah itu menjadi cara bertahan hidup, meski hasilnya belum cukup untuk menopang kebutuhan pesantren dan anak-anak asuh di dalamnya.Baca juga: Bangkitkan Pasar Tradisional, SPPG Penumping Solo Komit Beli Kebutuhan MBG dari Supplier LokalPada 2021, Al Kasyaf kembali mencoba peruntungan di sektor pangan. Mereka membuka usaha tempe dan pertanian sederhana. Hasilnya belum maksimal, tetapi perjuangan tidak berhenti.“Saat itu kami hanya terus berjuang. Kami harus hidup, karena ada yatim dan dhuafa yang harus kami jaga,” ucap Christiyanti.Nilai itulah yang menjadi salah satu fondasi setiap langkah Al Kasyaf, yakni keberlanjutan hidup anak-anak yang mereka rawat.Titik balik datang pada 2022, ketika Alkasyaf merintis Bank Sampah Alkasyaf (BSA). Dari aktivitas ini, pesantren mulai membangun relasi lebih luas dengan masyarakat.Mereka mengembangkan jasa pengelolaan sampah ke perumahan, membeli minyak jelantah, hingga memproduksi pupuk organik. Tahun berikutnya, pendekatan mereka semakin unik.“Kami datang ke rumah-rumah menjemput sampah terpilah sambil membawa tempe dan sabun,” kata Christiyanti.Dari sana, terbentuk model bisnis berkelanjutan yang mengikat pesantren dan warga dalam hubungan saling menguatkan.


(prf/ega)