Misteri Kepunahan Homo floresiensis atau Hobbit Flores Terjawab, Apa Penyebabnya?

2026-01-13 06:47:34
Misteri Kepunahan Homo floresiensis atau Hobbit Flores Terjawab, Apa Penyebabnya?
- Bertahun-tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu sepupu hominin terakhirnya, yakni Homo floresiensis.Itu adalah spesies manusia purba berukuran kecil yang mendiami Pulau Flores. Oleh karenanya, Homo floresiensis juga kerap dijuluki “hobbit”.Setelah lebih dari satu juta tahun hidup di Pulau Flores yang terisolasi, penyebab kepunahannya masih menjadi teka-teki besar.Kini, tim peneliti dari University of Wollongong, berkolaborasi dengan University of Queensland dan Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil mengungkap alasan hilangnya para hobbit dari Flores.Hasil penelitian yang diterbitkan dalam Communications Earth & Environment pada 8 Desember 2025 ini berisi rekaman iklim paling rinci dari wilayah tempat tinggal Homo floresiensis.Lantas, apa penyebab kepunahan para hobbit Flores?Baca juga: Peneliti Temukan Spesies Baru Manusia Purba Berkepala Besar di China, Hidup Sezaman dengan Manusia Hobbit FloresDilansir dari Science Alert, Selasa , para ilmuwan menemukan bahwa kekeringan ekstrem yang dimulai sekitar 61.000 tahun lalu kemungkinan menjadi pemicu utama hilangnya Homo floresiensis.H. floresiensis dan mangsa utamanya, gajah kerdil Stegodon, diduga terpaksa meninggalkan habitat mereka akibat kekeringan berkepanjangan.Baca juga: Ilmuwan Menduga Spesies Manusia Purba Mungkin Masih Ada di Pulau FloresPeneliti juga menekankan kemungkinan hobbit sempat berhadapan dengan manusia modern (Homo sapiens) yang berperawakan lebih besar.Penemuan hobbit pada 2003 mengubah pandangan ilmuwan tentang evolusi manusia.Tinggi mereka hanya sekitar 1,1 meter, dengan otak kecil, namun mampu membuat perkakas batu dan bertahan di pulau vulkanik yang sulit dijangkau meski tampaknya tidak memiliki teknologi perahu.Sisa-sisa hobbit ditemukan di Gua Liang Bua dan berusia 50.000–190.000 tahun.Kini, Flores memiliki iklim muson dengan pola cuaca yang cukup teratur yakni hujan sangat lebat yang biasanya turun pada November hingga Maret, serta hujan ringan yang turun pada Mei sampai September.Namun, pada masa lampau yakni periode glasial terakhir, pola curah hujan di wilayah itu berubah drastis. Baik jumlah hujan maupun waktu kedatangannya tidak lagi mengikuti pola yang kita kenal sekarang.Baca juga: Misteri Manusia Kerdil Indonesia, Lebih Mungil dari Hobbit FloresUntuk memahami seperti apa pola hujan di masa lalu, tim peneliti turun langsung ke Gua Liang Luar, yang berada sekitar 700 meter di hulu Gua Liang Bua.


(prf/ega)