SOLO, - Revitalisasi Panggung Songgo Buono di kompleks Keraton Surakarta, Jawa Tengah, resmi rampung.Bangunan cagar budaya nasional tersebut diresmikan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Selasa malam.Fadli Zon menyampaikan, Panggung Songgo Buono bukan sekadar bangunan fisik, melainkan warisan sejarah bangsa dengan perjalanan panjang dan nilai budaya yang luhur.“Hari ini kita berkumpul di jantung Kota Solo, di tengah pusaran sejarah dan keagungan budaya yang tak lekang oleh waktu, untuk meresmikan sebuah warisan sejarah yang memiliki makna sangat penting bagi bangsa,” ujarnya.Menara bersejarah ini disebut pernah menjadi menara tertinggi di Pulau Jawa.Bersama kompleks Keraton Surakarta, Panggung Songgo Buono telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Nasional sejak 2017.Baca juga: Harapan Besar Fadli Zon pada Museum Kartini: Seniman Jepara Harus DimanfaatkanBerdasarkan catatan sejarah, Panggung Songgo Buono berbentuk segi delapan dengan tinggi sekitar 30 meter dan terdiri atas lima tingkatan.Bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Pakubuwono III sekitar tahun 1728.Bangunan ini mengandung filosofi nogo muluk tinitan jalmo, yang bermakna keyakinan bahwa suatu saat rakyat akan memilih pemimpinnya sendiri.Filosofi tersebut kemudian menjadi kenyataan pada tahun 1945, ketika Indonesia merdeka dan memasuki era kepemimpinan yang lahir dari kehendak rakyat.Secara historis, Panggung Songgo Buono merupakan bagian tak terpisahkan dari arsitektur Keraton Surakarta.Baca juga: Preresmian Songgo Buwono dan Museum Keraton Solo, Siapa Saja yang Hadir?Bangunan ini berfungsi ganda, yakni sebagai pos penjagaan strategis untuk mengawasi kawasan keraton, alun-alun, dan benteng VOC, sekaligus sebagai penanda waktu.Dari sisi spiritual, Panggung Songgo Buono diyakini sebagai tempat malenggeng atau bertapa, di mana raja melakukan laku spiritual dan komunikasi batin, sehingga menjadikannya ruang yang sakral.Dalam tata ruang Keraton Surakarta, Panggung Songgo Buono berada di pusat kompleks dan melambangkan axis mundi atau poros dunia.Konsep ini menghubungkan Buwono Agung (alam semesta), Buwono Cilik (manusia), dan Buwono Tengahan (keraton), yang menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara alam, manusia, dan spiritualitas dalam kepemimpinan.
(prf/ega)
Fadli Zon Resmikan Panggung Songgo Buono, Menara Bersejarah di Keraton Surakarta
2026-01-12 13:33:58
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 14:07
| 2026-01-12 13:01
| 2026-01-12 12:50
| 2026-01-12 12:31
| 2026-01-12 11:29










































