Lahan Gundul Lereng Gunung Slamet Diduga Picu Banjir Bandang di Guci Tegal

2026-01-12 06:38:43
Lahan Gundul Lereng Gunung Slamet Diduga Picu Banjir Bandang di Guci Tegal
SLAWI, – Berkurangnya tutupan hutan di lereng Gunung Slamet diduga menjadi salah satu pemicu banjir bandang Sungai Kali Gung yang menerjang kawasan Objek Wisata (OW) Pemandian Air Panas Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu .Hal ini diakui oleh Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman.Ia menilai alih fungsi lahan hutan menjadi pertanian sayuran ikut berkontribusi terhadap meningkatnya risiko banjir bandang.Oleh karenanya, hal ini harus segera diatasi dengan segera melakukan penghijauan ulang.“Lahan kritis di kawasan hutan lindung yang gundul akan ditanami pohon, dan tahun 2026 untuk pengadaan bibit pohonnya akan kami siapkan,” kata Ischak dalam keterangannya, Minggu .Baca juga: Detik-detik Banjir Bandang Terjang Guci Tegal, Kolam Pemandian Pancuran 13 Lenyap Disapu ArusIa mengatakan, pengawasan lintas sektor akan diperkuat bersama TNI-Polri, Perhutani, BKSDA Jawa Tengah, hingga pemerintah pusat untuk memetakan dan menangani lahan-lahan kritis, terutama di kawasan hutan lindung.Banjir bandang tersebut merusak sejumlah fasilitas wisata, mulai dari Taman Wisata Alam (TWA) Pancuran 13 milik Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Pancuran 5 milik Pemerintah Kabupaten Tegal, hingga kolam renang milik swasta yang tertimbun material tanah dan batuan.Selain wahana wisata, banjir bandang juga merusak jaringan pipa air panas milik warga serta pelaku usaha penginapan dan perhotelan.Jaringan pipa tersebut selama ini mengandalkan sumber mata air utama di kawasan Pancuran 13.Ischak mengatakan, meski banjir tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka, dampaknya cukup signifikan terhadap infrastruktur penunjang wisata dan ekonomi warga.“Yang terdampak langsung banjir DAS Kali Gung seperti Pancuran 13, Pancuran 5, dan kolam renang Barokah milik swasta memang belum bisa diakses hari ini,” kata dia.Baca juga: Dampak Banjir Bandang Wisata Guci Tegal, Jembatan dan Kolam Pemandian Air Panas LenyapIschak mengeklaim aktivitas pariwisata di kawasan Guci secara umum masih berjalan normal karena banyak destinasi lain yang tetap bisa dikunjungi wisatawan.“Meskipun wahana seperti pemandian air panas Pancuran 13 sebagai ikon Guci belum dapat digunakan karena perlu waktu untuk proses perbaikannya,” ujarnya.Sementara itu, Pancuran 5 milik Pemkab Tegal diperkirakan sudah bisa kembali digunakan mulai Senin , setelah proses pembersihan material banjir di kolam pemandian selesai dilakukan.Warga Desa Guci dan Desa Rembul bersama unsur TNI-Polri, BPBD, Perhutani, hingga Pemkab Tegal bergotong royong membuka kembali sumber mata air panas yang tersumbat.“Kami terus memantau pembersihan lokasi untuk percepatan agar Pancuran 13 ini bisa kembali normal dan jaringan pipa air panas bisa tersambung kembali,” kata Ischak.Baca juga: Bupati Banyumas Akui Tambang Gunung Slamet Bikin Resah, Janji Kirim Surat Kedua ke GubernurIa menyebutkan, berdasarkan informasi dari BKSDA Jawa Tengah, pembersihan Pancuran 13 ditargetkan rampung dalam waktu tujuh hari ke depan.Di tengah upaya pemulihan, Pemkab Tegal juga meningkatkan kewaspadaan karena tingkat okupansi penginapan di kawasan Guci menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 telah mencapai sekitar 90 persen.Untuk mengantisipasi bencana susulan di tengah cuaca ekstrem, BPBD akan mengintensifkan sistem pemantauan berbasis prakiraan cuaca sebagai early warning system guna menekan risiko bagi wisatawan dan warga.


(prf/ega)