Riset: Konsumen Indonesia Paling Sabar Hadapi Layanan Digital

2026-02-05 06:09:52
Riset: Konsumen Indonesia Paling Sabar Hadapi Layanan Digital
JAKARTA, — Di tengah pertumbuhan layanan digital di kawasan Asia Pasifik, riset terbaru Twilio mencatat bahwa konsumen Indonesia menjadi yang paling sabar dalam berinteraksi melalui saluran digital.Temuan ini menunjukkan daya terima tinggi masyarakat terhadap otomasi, namun tetap dibarengi tuntutan kuat atas keamanan data.Dalam laporan “Decoding Digital Patience”, 85 persen konsumen Indonesia tercatat paling sabar di Asia Pasifik dan Jepang.Angka ini jauh di atas Australia, Hong Kong, India, dan Jepang yang berada pada kisaran 60–65 persen, serta Singapura yang hanya 59 persen.Baca juga: Marak Akun Palsu Layanan Konsumen Bank, Ini Cara Membedakannya dengan yang AsliKesabaran ini terutama disumbang generasi muda. Gen Z tercatat 73 persen lebih sabar dalam layanan pelanggan berbasis digital, dibanding Gen X dan Baby Boomers sebesar 64 persen. Namun tingkat kesabaran ini bersifat situasional.Pada layanan kesehatan, 81 persen konsumen Indonesia tetap sabar ketika harus mengajukan pertanyaan lanjutan setelah konsultasi.Sebaliknya, untuk persoalan ritel dan teknologi yang dianggap mendesak, kesabaran menurun menjadi 63 persen.Angka ini masih lebih tinggi dari rata-rata kawasan Asia Pasifik sebesar 59 persen, serta Jepang dan Singapura yang masing-masing berada di posisi 51 persen dan 52 persen.Baca juga: Temuan NielsenIQ, Sepanjang 2024 Konsumen Indonesia Makin Hati-hati dalam BerbelanjaDOK. TWILIO Riset Twilio mencatat konsumen Indonesia paling sabar dalam layanan digital.Riset ini juga mencatat 69 persen konsumen Indonesia tetap sabar menghadapi gangguan layanan teknologi atau telekomunikasi. Jumlah tersebut lebih tinggi dari Jepang yang mencatat 51 persen dan Singapura 54 persen.Meski begitu, lebih dari separuh responden Indonesia (53 persen) menyatakan akan mempertimbangkan ulang menggunakan aplikasi jika proses pendaftarannya berbelit-belit.Sebanyak 23 persen dari kelompok ini mengaku kepercayaannya terhadap brand menurun karena hambatan tersebut.Baca juga: Riset: Konsumen Indonesia Semakin Selektif Pilih Platfrom E-commerceVice President APJ Communications Twilio, Robert Woolfrey, mengatakan, Indonesia secara konsisten tampil menonjol sebagai salah satu pasar digital paling terhubung di dunia."Konsumen memberikan kesabaran dan keterbukaan terhadap teknologi baru seperti AI, namun mereka juga memiliki tuntutan yang jelas akan keamanan dan pengalaman awal yang mulus,” kata Woolfrey melalui keterangannya, dikutip Selasa .Sebagai informasi, survei dilakukan Twilio bersama YouGov terhadap 7.331 responden, termasuk 1.038 dari Indonesia, pada 28 Agustus–4 September 2025 di tujuh negara Asia Pasifik.Baca juga: Riset TikTok Shop by Tokopedia: Live Host Jadi Pekerjaan Paling DicariSebagai informasi, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September 2025 turun 2,2 persen ke level 115 dari posisi Agustus 117,2.Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, meski turun, keyakinan masyarakat terhadap ekonomi tetap kuat. “Masih di atas 100,” ujar Airlangga usai menghadiri Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2025 di Jakarta, Rabu .Bank Indonesia mencatat, penurunan IKK tidak mengubah pandangan positif konsumen. “Keyakinan konsumen masih berada di level optimistis, didukung oleh IKE dan IEK yang tetap kuat,” kata Direktur Eksekutif Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso.Optimisme tertinggi terlihat pada kelompok belanja di atas Rp 5 juta dan usia 20–30 tahun, sementara secara spasial, Mataram, Makassar, dan Pontianak mencatat kenaikan, berbeda dengan penurunan di Medan, Manado, dan Padang.Baca juga: Survei Ipsos: 46 Persen Konsumen Indonesia Mengaku Sangat Terpengaruh Kenaikan Harga Akibat Inflasi


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Sekretariat Satgas PASTI, Hudiyanto, mengatakan sejak IASC beroperasi pada 22 November 2024 hingga 11 November 2025, lembaga itu telah menerima 343.402 laporan penipuan. Laporan tersebut menunjuk 563.558 rekening yang terkait aktivitas penipuan, di mana 106.222 rekening telah diblokir.Dari keseluruhan laporan, total kerugian yang dilaporkan korban mencapai Rp 7,8 triliun, sementara upaya pemblokiran dana berhasil menahan Rp 386,5 miliar.“Sejak awal beroperasi di tanggal 22 November 2024 sampai dengan 11 November 2025, IASC telah menerima 343.402 laporan penipuan. Total rekening terkait penipuan yang dilaporkan ke IASC sebanyak 563.558 rekening dengan 106.222 rekening telah dilakukan pemblokiran,” ujar Hudiyanto lewat keterangan pers, Sabtu .Baca juga: Penipuan AI Deepfake Kian Marak, Keamanan Identitas Digital Diuji“Adapun total kerugian dana yang dilaporkan oleh korban penipuan sebesar Rp 7,8 triliun dengan dana yang telah berhasil diblokir sebesar Rp 386,5 miliar,” paparnya. Menurut Hudiyanto, angka-angka itu memperlihatkan sejauh mana pelaku memanfaatkan platform digital untuk menjerat korban, mulai dari pinjaman online alias pinjol ilegal hingga tawaran investasi palsu, sehinggga penindakan masif diperlukan untuk melindungi konsumen.Sebagai bagian dari penindakan, Satgas PASTI kembali memblokir 776 aktivitas dan entitas keuangan ilegal, yang terdiri atas 611 entitas pinjaman online ilegal, 96 penawaran pinjaman pribadi (pinpri), dan 69 tawaran investasi ilegal.

| 2026-02-05 06:11