120 Juta Tahun Lalu, Burung Purba Ini Mati Tersedak Usai Telan 800 Batu

2026-01-11 23:57:51
120 Juta Tahun Lalu, Burung Purba Ini Mati Tersedak Usai Telan 800 Batu
- Sebuah fosil berusia sekitar 120 juta tahun di China mengungkap kisah tragis seekor burung purba.Para ilmuwan menduga, burung seukuran burung pipit itu mati karena tersedak setelah menelan lebih dari 800 batu kecil.Burung, seperti ayam dan burung hantu, memang dikenal menelan batu untuk membantu pencernaan di organ otot yang disebut empedal.Kendati demikian, penemuan yang akan segera diterbitkan dalam jurnal Palaeontologia Electronica ini dianggap sangat aneh.Baca juga: Fosil Ular Purba “Aneh” Ditemukan di Inggris, Mirip Ular KarungPara peneliti dari Field Museum, yang dipimpin oleh kurator Jingmai O’Connor, menemukan spesies baru ini saat menelusuri koleksi fosil lama di Shandong Tianyu Museum of Nature di China.Mereka menamai spesies ini Chromeornis funkyi, atau "Burung Chromeo Funky," sebagai penghormatan kepada band electro-funk.Namun, hal yang paling mencolok tentang Chromeornis adalah penyebab kematiannya: mati lemas akibat menelan batu.O’Connor pertama kali menemukan Chromeornis saat melihat sepotong batu kecil seukuran burung pipit yang mengawetkan fosil dengan fitur yang mirip dengan spesies burung yang lebih besar, Longipteryx.“Ia memiliki gigi yang sangat besar di ujung paruhnya, sama seperti Longipteryx, tetapi ia adalah makhluk kecil,” tambah O’Connor dalam sebuah pernyataan dikutip Gizmodo.“Jadi berdasarkan itu, saya tahu ini adalah spesies baru.”Saat tim memeriksanya di bawah mikroskop, mereka menemukan massa batu yang tidak biasa di dalam kerongkongan makhluk itu, tepat di tulang lehernya.Analisis komposisi dan penempatan batu-batu tersebut sangat menunjukkan bahwa batu-batu itu ditelan oleh burung tersebut, bukan sekadar berkumpul di sekitarnya selama proses fosilisasi.Para peneliti sebelumnya pernah mempelajari fenomena empedal pada burung yang menelan batu.“Tetapi dalam ribuan fosil burung dalam kelompok yang sama dengan fosil kecil ini, tidak ada yang pernah ditemukan dengan batu empedal,” kata para peneliti.Untuk memastikan apakah batu-batu itu adalah batu empedal, para peneliti membandingkan volume, kuantitas, dan ukuran batu dengan batu empedal yang teridentifikasi pada fosil burung lain, dan melakukan CT scan pada Chromeornis.


(prf/ega)