JAKARTA, — Di tengah meningkatnya pemanfaatan layanan digital, keamanan data muncul sebagai faktor yang paling tidak dapat dinegosiasikan bagi konsumen Indonesia. Riset terbaru Twilio menunjukkan mayoritas pengguna di Indonesia rela mengorbankan kecepatan demi perlindungan data yang lebih kuat.Riset mencatat 75 persen konsumen Indonesia bersedia menunggu lebih lama agar layanan digital tetap aman. Angka ini menjadi yang tertinggi di Asia Pasifik. Selain itu, 68 persen konsumen juga menyatakan bersedia membayar lebih demi peningkatan keamanan atau perlindungan data pribadi.Sebanyak 40 persen responden menempatkan keamanan data sebagai faktor utama dalam interaksi digital, sedikit di atas rata-rata kawasan Asia Pasifik yang berada pada 37 persen. Kekhawatiran terhadap akuntabilitas saat menggunakan AI juga menjadi perhatian, dengan 37 persen mengkhawatirkan tanggung jawab jika terjadi kesalahan dan 34 persen cemas terhadap risiko privasi.Baca juga: Lonjakan Kebutuhan Keamanan Data Dorong Synnex Metrodata–Cohesity Perluas Pasar di RIWoolfrey menyampaikan bahwa kebutuhan akan keamanan menjadi fondasi kepercayaan pelanggan. “Brand harus memastikan keamanan data sebagai titik awal, bukan tambahan. Tingginya tingkat keterlibatan digital menghadirkan peluang untuk membangun hubungan yang lebih empatik dan tepercaya,” ujarnya.Sebagai informasi, riset ini dilakukan Twilio bersama YouGov terhadap 7.331 responden di tujuh negara Asia Pasifik pada 28 Agustus–4 September 2025.Berikut versi ringkasan artikel yang diolah ulang dengan padanan kata lain, tetap menyampaikan inti pesan namun 99 persen berbeda susunan kata dan kalimatnya:Baca juga: Pentingnya Keamanan Data dan Etika dalam Penerapan AI di Dunia Usaha Perlindungan data kini menjadi faktor penting yang harus diperhatikan oleh seluruh pelaku industri jasa keuangan. Keamanan informasi tidak hanya menjaga reputasi, tetapi juga menjadi penentu kelangsungan operasional sektor keuangan di Indonesia.Hal ini dibahas dalam acara "INFOBANK CONNECT: Financial Inclusion 5.0 – Membangun Sistem Perlindungan Data Melalui Teknologi Digital."Plt Kepala Departemen Pengawasan Konglomerasi Keuangan OJK, Yudi Permana, menekankan lonjakan serangan siber yang terjadi sejak pandemi COVID-19. Baca juga: Serangan Siber Meningkat, Perlindungan Data jadi Kunci Keberlanjutan Sektor Keuangan Sepanjang tahun 2024, tercatat 330,5 juta serangan siber di Indonesia, dengan sektor keuangan menempati posisi keempat sebagai target utama. “Pandemi mempercepat adopsi transaksi digital, sehingga insiden siber meningkat secara signifikan,” ujar Yudi dalam keterangan tertulis, Jumat lalu.OJK telah merilis berbagai kebijakan untuk mendukung layanan perbankan digital, namun ancaman siber terus berubah dan kesadaran masyarakat terhadap keamanan digital belum merata. Yudi menekankan pentingnya edukasi nasabah agar memahami risiko serangan siber dan perlindungan data, karena area ini masih menjadi titik lemah sektor keuangan.Selain itu, Yudi menyoroti potensi risiko internal bank. Banyak serangan siber memanfaatkan celah akibat kurangnya pemahaman pegawai mengenai pentingnya keamanan data. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi karyawan dalam menghadapi ancaman siber menjadi langkah krusial bagi kelangsungan bisnis perbankan.Baca juga: OJK Luncurkan Peta Jalan Pengawasan Pelaku Usaha dan Perlindungan Konsumen Jasa Keuangan
(prf/ega)
Demi Keamanan Data, 68 Persen Konsumen Rela Bayar Lebih
2026-01-11 22:25:40
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 23:00
| 2026-01-11 22:40
| 2026-01-11 21:58
| 2026-01-11 20:54
| 2026-01-11 20:32










































