Pengamat: Indonesia Sulit Tiru Vietnam Soal Mobil Nasional

2026-01-12 11:53:32
Pengamat: Indonesia Sulit Tiru Vietnam Soal Mobil Nasional
JAKARTA, - Pengamat otomotif dan dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu mengatakan bahwa Indonesia sulit untuk meniru Vietnam dalam pengembangan kendaraan nasional.Hal tersebut berlandaskan dari banyaknya kepentingan yang berada pada konglomerat di dalam negeri sehingga berbagai keputusan mempunyai kecenderungan saling meniadakan. Berbeda dari pemimpin Vingroup, Pham Nhat Vuong."Kita terlalu banyak konglomerat yang jalannya tidak kompak. Jadi kalau diambil resultannya jadi nol, saling meniadakan (bertubrukkan antar kepentingan). Dia (Vingroup) satu orang tapi fokus," kata Yannes ditemui di Subang, Jawa Barat, Senin lalu.Baca juga: Indonesia Bisa Belajar dari VinFast: Kunci Membangun Mobil NasionalDok. DPR-RI Kendaraan Maung MV3 Garuda Limousine yang digunakan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri sidang tahunan MPR-RI, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat ."Kita tidak fokus. Besar tapi tidak fokus," lanjut Yannes.Padahal berdasarkan data Kemenperin, industri otomotif Indonesia menempati peringkat ke-2 di kawasan Asia Tenggara (ASEAN) tepat berada di bawah Thailand.Hal itu lantas terbukti dari kontributor industri alat angkut yang menyumbang 1,28 persen ke PDB pada triwulan III/2025. Di dalamnya, industri otomotif memegang peran dominan sebagai penggerak manufaktur nasional.Saat ini terdapat 39 pabrikan kendaraan roda empat dengan kapasitas 2,39 juta unit per tahun, serta 82 pabrikan roda dua dan tiga berkapasitas 11,2 juta unit.Sepanjang Januari–Oktober 2025, produksi roda dua dan tiga mencapai 5,89 juta unit dengan ekspor 460.000 unit. Sementara segmen roda empat, produksinya mencapai 960.000 unit, serta 430.000 unit di antaranya diekspor.Menurut Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) juga menunjukkan terdapat 1.412 IKM komponen alat angkut tersebar di berbagai daerah, memproduksi komponen bodi dan sasis, knalpot, interior, aksesori, plastik dan karet, hingga radiator dan produk modifikasi.Baca juga: Kenaikan TKDN Kendaraan Listrik: Apa Dampaknya?dok.TMMIN Pabrik mobil PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawang, Jawa Barat.Pada program Low Carbon Emission Vehicle (LCEV), sebanyak 51 dari 274 pemasok komponen juga berasal dari IKM nasional."Memang kita itu besar tetapi tidak ada kerja sama. Tidak ada satu komitmen yang sama. Jadi menurut saya, kita perlu kolaborasi yang benar, transparansi. Niat yang tulus, bukan mens rea," ucap Yannes."Kolaborasinya triple helix (dunia pendidikan, industri, dan regulator). Tetapi saat ini kan dunia pendidikan itu masih jadi problem kita. Dunia usaha dan regulatornya juga harus ada pembenahan," lanjutnya.Sebelumnya, CEO VinFast Asia, Pham Sanh Chau menyampaikan bahwa Indonesia bisa mengambil contoh Vietnam dalam pengembangan mobil nasional yang kini telah dikenal sebagai VinFast.Namun terdapat satu fondasi utama yang harus dimiliki terlebih dahulu, yaitu kepemimpinan yang visioner, konsisten, dan berani mengambil risiko besar sejak awal.Baca juga: Mitsubishi Xpander Turun, BYD M6 Stabil di Pasar LMPV November 2025wikipedia Ilustrasi mobil nasional Timor“Menurut saya, kalau ditanya lesson learned supaya mobil nasional bisa berhasil, yang pertama harus ada satu orang yang visioner seperti chairman kami,” ujar Chau.


(prf/ega)