JAKARTA, - Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menyorot telah terjadinya darurat kekerasan di sekolah, mengingat banyaknya kasus perundungan atau bullying di sekolah.“Jadi, kita kan sudah darurat kekerasan, dan pasti itu banyak sebabnya,” kata Hetifah, saat ditemui di lapangan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam), Jakarta Pusat, Minggu .Menurutnya, kasus-kasus tersebut harus menjadi pendorong bagi para guru bimbingan konseling (BK) untuk lebih memberi perhatian.Baca juga: Siap-siap Permen Anti-bullying Atasi Kekerasan di Sekolah Ia tak ingin para guru BK memiliki pandangan bahwa tugasnya hanya mencegah dan menangani kasus yang terjadi di lingkungan sekolah.Sebab, kasus perundungan juga kerap terjadi di luar sekolah bahkan di rumah."Jadi berarti kan harus betul-betul dikenali. Setiap anak itu kondisinya seperti apa kalau ada perubahan. Baik guru maupun orang tuanya harus lebih care (peduli) gitu. Sekarang, enggak bisa cuek lagi," ujar Hetifah.Di samping itu, ia mengingatkan peran semua pihak untuk mencegah kasus kekerasan kembali terjadi kepada anak."Bukan cuma dari anak, tapi juga dari orangtua, guru, dan juga masyarakat di sekitarnya," tegas Hetifah.Baca juga: Rencana Permen Anti-bullying, Anggota DPR Bakal Libatkan Guru dan OrangtuaPolitikus Partai Golkar itu juga menekankan pentingnya mengetahui pergaulan, komunikasi, hingga permainan yang anak-anak akses.Langkah ini dinilai penting untuk mewaspadai potensi paparan paham radikalisme pada anak."Dan itu bukan semata-mata karena game, tapi banyak cara-cara yang dibuat untuk penetrasi anak-anak kita. Nah, itu juga menjadi satu peringatan yang sangat serius," ujar Hetifah.Baca juga: Bullying di SMPN Tangsel, JPPI: Guru hingga Disdik Perlu DievaluasiSebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 1.052 kasus yang dilaporkan sepanjang 2025, serta 16 persen diantaranya atau 165 kasus terjadi di lingkungan sekolah.Komisioner KPAI Aris Adi Leksono mengatakan hal itu tidak bisa dianggap remeh, sebab 26 kasus diantaranya berujung pada kematian. Anak-anak tersebut memilih mengakhiri hidupnya di rumah atau menggantung diri di sekolah."Sepertiga (kasus bunuh diri) terjadi di satuan pendidikan," kata Aris, dilansir dari Kompas.com, Selasa .
(prf/ega)
Darurat Kekerasan Anak, Ketua Komisi X Dorong Guru BK Lebih Perhatian
2026-01-12 06:04:11
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 05:59
| 2026-01-12 05:31
| 2026-01-12 04:43










































