Pemkot Bandung Soroti Kegemaran Warga Konsumsi Aci-acian, Ahli Sebut Cireng Cimol dan Cilok Harus Dikemas Lebih Bergizi

2026-01-11 14:38:52
Pemkot Bandung Soroti Kegemaran Warga Konsumsi Aci-acian, Ahli Sebut Cireng Cimol dan Cilok Harus Dikemas Lebih Bergizi
BANDUNG, - Kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi masih perlu ditingkatkan. Ketidakseimbangan gizi masih terjadi, mulai dari obesitas, kekurangan gizi umum hingga stunting. Sementara itu, Pemerintah Kota Bandung hingga akademisi ITB menyoroti pola makan warga Bandung yang gemar memakan makanan berbahan dasar tepung aci yang dinilai dapat menjadi persoalan gizi apabila tak diimbangi gizi lainnya. Dalam comunity podcast Innovibes Vol.4 di ITB Inovation Park, Kamis , Plt Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Kesehatan Kota Bandung, Dewi Primasari mengungkap pola konsumsi masyrakat yang cenderung memilih makanan berbahan dasar aci speerti cireng, cimol atau cilok, terutama pada keluarga dengan anak stunting.Baca juga: Pemerintah Ajak Ahli Gizi Awasi dan Edukasi soal Makanan Layak Konsumsi untuk AnakMeski aci masih menjadi sumber karbohidrat, ia menilai masyarakat sering mengabaikan kesimbangan gizi. "Itu boleh, hanya tadi prinsip kesimbangan dipenuhi juga sumber proteinnya, sumber sayur serat mineralnya. Masyarakat kita itu ingin mudahnya saja. Kan udah makan cilok satu mangkok kenyang tapi dia gak peduli nilai gizinya," ujarnya.Dikatakan bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi masalah triple burden malnutrition, kekurangan gizi, kelebihan berat badan, serta kekurangan zat gizi mikro.Dewi menyebut anemia masih banyak ditemukan pada sepertiga remaja, ibu hamil, bahkan orang dewasa. Untuk itu, awal 2025 pemkot Bandung menerbitkan Peraturan Wali Kota nomor 6 Tahun 2025 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (germas), yang menekankan pola makan sehar, aktifitas fisik dan perilaku tidak merokok.Dosen FTI ITB Prof Dr Made Tri Ari Penia Kresnowati mengatakan bahwa Kota Bandung dikenal kreatif dalam mengolah makanan, termasuk camilan berbahan dasar tepung aci, seperti cilok, cireng dan makanan 'ci-ci" lainnya.Camilan ini  dianggap memiliki tantangan tersendiri untuk meningkatkan kandungan gizi produk-produk tersebut.Baca juga: Menko Pangan Tegaskan Pentingnya Ahli Gizi dalam Penyelenggaraan MBG"Kita sangat mengenal cireng cimol segala macam, nah ini mungkin tantangan besar mengemas 'ci-ci' itu menjadi suatu yang punya gizi lebih," katanya.Tri menilai ketidakseimbangan gizi masih terjadi, mulai dari obesitas, kekurangan gizi umum, hingga stunting. Karenanya, kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi masih perlu ditingkatkan. Menurutnya, variasi produk pangan bergizi alternatif harus lebih banyak disediakan agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih sehat.Hal ini mejadi peluang bagi sektor riset dan industri, meskipun membutuhkan usaha besar. "Variabilitinya ini memang kita perlu banyak sekali menyajikan produk-produk alternatif dan ini menjadi peluang, karena itu berarti banyak usaha dan riset yang bisa dikembangkan, tapi peluangnya ya perlu effort besar juga," katanya.


(prf/ega)