PATI, – Ratusan warga Desa Ngurenrejo, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menggelar tradisi napak tilas Kenduruan di Makam Nyai Ageng Kenduruan, Kamis .Sejak pukul 15.00 WIB, warga mulai berdatangan ke makam yang terletak di Desa Tajungsari, Kecamatan Tlogowungu, sekitar 15 kilometer dari Ngurenrejo.Mereka membawa ambengan—aneka makanan dalam wadah besar—untuk dimakan bersama setelah doa dan ritual selesai.Tradisi napak tilas Kenduruan dilakukan untuk menyambut datangnya musim tanam. Di lokasi makam, warga menggelar doa bersama memohon berkah dan kelancaran hasil pertanian.Baca juga: AMPB Klaim Gerakan Rakyat Makin Kuat usai Bupati Pati Sudewo Gagal DimakzulkanSekretaris Desa Ngurenrejo, Sutrisno (58), menjelaskan bahwa tradisi ini sudah diwariskan secara turun-temurun sejak masa leluhur mereka, Ki Ageng Singopadu, pendiri Desa Nguren.“Tradisi ini dilestarikan karena dulu dilakukan oleh leluhur kami, Ki Ageng Singopadu. Beliau setiap menjelang musim tanam selalu soan ke kakaknya, Nyai Ageng Kenduruan, untuk meminta doa restu agar pertanian di Ngurenrejo mendapat keberkahan,” ujar Sutrisno usai makan bersama.Desa Ngurenrejo terletak di dataran rendah, sementara makam Nyai Ageng Kenduruan berada di lereng Pegunungan Muria yang memiliki sumber mata air.Karena itu, napak tilas juga menjadi simbol doa agar air dari Tajungsari dapat mengalir hingga ke Ngurenrejo, mencukupi kebutuhan sawah dan lahan pertanian.Baca juga: Mengenal Tradisi Jumenengan, yang Diagendakan Keraton Solo 15 November 2025Kegiatan ini selalu dilaksanakan setiap bulan November, menyesuaikan perhitungan musim labuan dalam kalender Jawa, yakni masa persiapan tanam.“Menurut perhitungan Jawa, musim labuan biasanya jatuh antara Oktober sampai November. Karena itu, desa menetapkan bulan Masehi, tapi harinya tetap mengikuti perhitungan Jawa, yaitu Kamis Wage malam Jumat Kliwon,” jelas Sutrisno.Sutrisno menambahkan, pada masa penjajahan Belanda, wilayah Desa Nguren dipisah menjadi dua, yakni Ngurenrejo di bagian utara dan Ngurensiti di bagian selatan. Meski terpisah, keduanya masih menjaga tradisi yang sama.“Sebagai sesepuh, Mbah Singopadu membawai dua desa, yaitu Ngurenrejo dan Ngurensiti. Untuk Desa Ngurensiti, tradisi serupa akan dilaksanakan besok pagi,” pungkasnya.
(prf/ega)
Napak Tilas Kenduruan: Tradisi Warga Pati Menyambut Musim Tanam
2026-01-11 15:01:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 13:55
| 2026-01-11 13:54
| 2026-01-11 13:37
| 2026-01-11 12:59
| 2026-01-11 12:59










































