Media AS: Populasi Indonesia 285 Juta Jiwa Tapi Tak Pernah Lolos Piala Dunia

2026-01-15 04:29:56
Media AS: Populasi Indonesia 285 Juta Jiwa Tapi Tak Pernah Lolos Piala Dunia
- Timnas Indonesia kembali harus mengubur mimpi tampil di Piala Dunia usai hancur lebur di ronde 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia.Bergabung di Grup B bersama Arab Saudi dan Irak, Timnas Indonesia tak mampu meraih satu poin pun usai menelan dua kekalahan.Pupusnya harapan Indonesia bisa tampil di panggung sepak bola paling bergengsi di dunia itu meninggalkan kekecewaan besar bagi masyarakat.Sebagai bangsa besar, agaknya sulit diterima jika Timnas Indonesia justru harus kembali menjadi penonton tahun depan.Baca juga: PSSI Jawab Rumor Terkait Timur Kapadze Sebagai Pelatih Baru Timnas IndonesiaDengan waktu yang tersisa hanya setengah tahun menjelang Piala Dunia 2026, banyak berita yang mungkin muncul terkait situasi ini.Kualifikasi Piala Dunia 2026 juga akan menuju laga terakhir di berbagai benua, termasuk Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara.Jeda internasional yang akan datang di bulan November menjadi krusial untuk menentukan tim-tim yang akan melaju ke putaran final atau play-off.Media asal Amerika Serikat (AS), The Athletic, menyambut jeda internasional ini dengan membahas negara-negara yang tidak berhasil lolos ke Piala Dunia 2026.Dalam artikel mereka yang berjudul "Piala Dunia 2026: Mengapa Banyak Negara Terbesar Gagal Lolos?" mengungkapkan bahwa meskipun terdapat beberapa negara kecil seperti Cape Verde yang memiliki populasi 525 ribu dan berhasil lolos, terdapat pula negara-negara besar yang gagal.The Athletic menyoroti tiga negara Asia Selatan dengan total populasi hampir 2 miliar, yaitu India, Pakistan, dan Bangladesh, yang justru tak masuk dalam kategori tim elit Asia saat ini.Baca juga: Roadmap Timnas Indonesia Menuju Target Ranking 70 Dunia pada 2034Sementara itu, China yang berpopulasi 1,4 miliar, juga tidak berhasil lolos ke Piala Dunia 2026, meskipun mereka telah mencapai putaran ketiga kualifikasi zona Asia.Sorotan besar juga tertuju kepada Indonesia sebagai "bangsa besar" yang memiliki sejarah yang minim dalam dunia sepak bola.Meski sepak bola adalah olahraga nomor satu di Indonesia, Timnas Indonesia justru belum pernah merasakan tampil di ajang tersebut sebagai bangsa yang merdeka.Baca juga: Komentar Media Irlandia Soal Kandidat Pelatih Timnas IndonesiaKali terakhir bermain di Piala Dunia adalah pada 1938 yang kala itu masih memakai nama Hindia Belanda."Sepak bola adalah olahraga terpopuler di Indonesia, namun penampilan mereka di Piala Dunia hanya tercatat satu kali pada tahun 1938 saat masih dikenal sebagai Hindia Belanda," tulis mereka.PSSI Para pemain tim nasional Indonesia pada laga Grup B putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia kontra Irak di Stadion King Abdullah Sports City, Jeddah, Sabtu malam waktu setempat. Indonesia kalah 0-1 pada laga tersebut dan gagal ke Piala Dunia 2026. Media Vietnam dan Timur Tengah Soroti Kekalahan Inodnesia vs Irak: Singgung Strategi Patrick Kluivert dan Keputusan Kontroversial Wasit


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-15 04:40