Inalum Percepat Hilirisasi Aluminium untuk Penuhi Kebutuhan Nasional

2026-01-12 04:51:07
Inalum Percepat Hilirisasi Aluminium untuk Penuhi Kebutuhan Nasional
JAKARTA, - Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menyatakan komitmennya untuk mempercepat hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium.Hal ini sejalan dengan proyeksi kebutuhan nasional yang diperkirakan melonjak hingga 600 persen dalam tiga dekade mendatang.Peningkatan konsumsi aluminium ini terutama didorong transformasi besar di sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan ekspansi energi baru terbarukan yang kini membutuhkan aluminium dalam jumlah yang sangat besar.Baca juga: Antam (ANTM) Cari Mitra Kembangkan Teknologi Pengolahan BauksitTangkapan Layar Akun YouTube Komisi VI DPR RI Channel Direktur Utama PT Garam Arif Haendra dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DRP RI, Senin .Direktur Pengembangan Usaha Inalum Arif Haendra menegaskan bahwa Indonesia berada pada momentum penting untuk membangun industri aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Ia menjelaskan, sejak tahun 2018 hingga 2024, kebutuhan aluminium nasional masih sangat bergantung pada pasokan impor yang mencapai 54 persen, sementara kontribusi Inalum baru berada di level 46 persen.Ketergantungan ini dinilai tidak ideal, terutama karena aluminium merupakan bahan baku strategis untuk berbagai sektor industri masa depan.“Konsumsi aluminium nasional akan meningkat sangat pesat, terutama karena kebutuhan untuk baterai kendaraan listrik dan pembangunan pembangkit energi surya. Satu battery pack EV menggunakan sekitar 18 persen aluminium, dan pembangunan pembangkit surya membutuhkan sekitar 21 ton aluminium untuk setiap 1 MW. Kebutuhan ini menjelaskan urgensi percepatan hilirisasi,” ujar Arif pada acara Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin), Jumat .Baca juga: Pengusaha Bauksit Keluhkan Smelter China, Abaikan Harga Patokan PemerintahMenurut Arif, hilirisasi mineral bauksit tidak lagi sekadar program industri, tetapi merupakan langkah strategis untuk menjaga ketahanan bahan baku nasional.


(prf/ega)