DALAM dua hari berturut-turut, dunia filsafat Indonesia kehilangan dua pengajarnya yang tekun.Romo FX Mudji Sutrisno, SJ (dosen filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara) wafat pada 28 Desember 2025, disusul Fransiskus Borgias, dosen filsafat Universitas Katolik Parahyangan, pada 29 Desember 2025.Kepergian mereka terjadi di penghujung tahun—saat publik sibuk menutup laporan, menyusun resolusi, dan menatap masa depan.Apakah arti peristiwa ini bagi dunia pendidikan dan kebudayaan?Pertanyaan itu tidak perlu dijawab secara simbolik berlebihan. Namun, membaca peristiwa ini semata sebagai kebetulan biologis juga terlalu dangkal.Dalam horizon filsafat, kematian dua dosen dalam rentang waktu yang sangat dekat dapat dibaca sebagai peristiwa etis—momen yang mengundang refleksi tentang bagaimana filsafat diajarkan, diwariskan, dan dihidupi hari ini (Arendt, 1961).Romo Mudji Sutrisno dikenal luas sebagai imam Jesuit, filsuf, dan budayawan yang menjadikan keheningan, seni, dan pengalaman estetis sebagai pintu masuk refleksi.Dalam banyak karyanya, ia menempatkan kebudayaan bukan sekadar produk, melainkan ruang pengolahan makna manusia (Sutrisno, 1993; 2010).Filsafat baginya bukan pertama-tama sistem konsep, melainkan latihan kepekaan batin untuk membaca realitas secara lebih manusiawi.Melalui estetika, Romo Mudji mengajak orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia instrumental.Keheningan, menurutnya, bukan kekosongan, melainkan ruang tempat manusia kembali belajar mendengarkan—baik sesama maupun dirinya sendiri (Sutrisno, 2020).Di tengah masyarakat yang semakin cepat dan reaktif, sikap ini menjadi bentuk perlawanan kultural yang halus, tetapi mendasar.Berbeda dengan itu, Fransiskus Borgias dikenal sebagai dosen filsafat yang tekun menjaga disiplin nalar dan ketertiban argumentasi.Ia mewakili tradisi filsafat akademik yang menekankan ketelitian konsep, kesabaran membaca teks, dan tanggung jawab rasional dalam berargumen—nilai-nilai yang menjadi tulang punggung tradisi filsafat Barat sejak Aristoteles hingga pemikir kontemporer (Gadamer, 1989; MacIntyre, 1981).Yang satu menekankan kedalaman rasa dan makna, yang lain menegakkan ketertiban berpikir dan kejernihan nalar. Namun, keduanya bertemu pada satu titik: filsafat tidak boleh menjadi hiasan intelektual, melainkan cara hidup yang bertanggung jawab.
(prf/ega)
Wafatnya Dua Dosen Filsafat dan Masa Depan Nalar
2026-01-11 03:54:24
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-11 03:44
| 2026-01-11 03:11
| 2026-01-11 02:27
| 2026-01-11 01:42










































