Tiket Termurah Piala Dunia 2026 Rp 1 Juta, FIFA Ungkap Kenapa Mahal

2026-02-03 07:30:57
Tiket Termurah Piala Dunia 2026 Rp 1 Juta, FIFA Ungkap Kenapa Mahal
DUBAI, - Presiden FIFA Gianni Infantino pada Senin mengungkap alasan mengapa harga tiket Piala Dunia 2026 dinilai terlalu mahal oleh sejumlah pihak.Kelompok Football Supporters Europe (FSE) menjadi salah satu pengkritik paling vokal terhadap kebijakan harga FIFA.Dalam pernyataannya, mereka menyebut tiket Piala Dunia 2026 bisa hampir lima kali lebih mahal dibandingkan edisi 2022 di Qatar.Baca juga: Harga Tiket Final Piala Dunia 2026 Termurah Rp 70 Juta, Bisa buat DP RumahMerespons kritik tersebut, FIFA mengumumkan bahwa sebagian kecil tiket akan ditawarkan dengan harga lebih terjangkau, yakni sekitar 60 dollar AS (Rp 1 juta).Meski demikian, FSE menyebut langkah itu belum cukup untuk menjamin inklusivitas penonton dari kalangan ekonomi menengah dan bawah.Infantino menegaskan bahwa semua pendapatan dari turnamen akan dikembalikan ke dunia sepak bola melalui berbagai program pengembangan di banyak negara.“Yang penting adalah, pendapatan yang dihasilkan dari ini kembali ke pertandingan di seluruh dunia,” ucap Infantino di World Sports Summit di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA).“FIFA adalah satu-satunya organisasi di dunia yang membiayai sepak bola di seluruh dunia. Tanpa FIFA, tidak akan ada sepak bola di 150 negara. Sepak bola ada berkat pendapatan dari Piala Dunia yang kami investasikan kembali ke seluruh dunia,” lanjutnya, dikutip dari kantor berita AFP.Penjualan tiket Piala Dunia 2026 ditargetkan mencapai enam hingga tujuh juta lembar, menjadikannya salah satu ajang olahraga terbesar secara komersial dalam sejarah FIFA.Baca juga: FIFA Rilis Tiket Murah Piala Dunia 2026, Harganya Hampir Rp 1 JutaTANGKAPAN LAYAR Presiden FIFA Gianni Infantino memberikan sambutan sebelum suasana pengambilan undian untuk turnamen playoff antarkonfederasi Piala Dunia 2026 dan playoff Eropa di Home of FIFA, Zurich, Swiss, pada Kamis .


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Hans Patuwo bukan sosok baru di lingkungan GoTo. Ia telah bekerja hampir delapan tahun di ekosistem Gojek, GoPay, dan GoTo. Ia bergabung dengan Gojek pada 2018 sebagai Chief Operating Officer, dengan fokus pada penguatan operasional dan ekosistem mitra driver.Pada 2021, Hans dipercaya memimpin unit bisnis yang kemudian berkembang menjadi GoTo Financial. Di posisi tersebut, ia mengawasi peluncuran layanan pinjaman dan pengembangan aplikasi GoPay, yang kini menjadi salah satu platform fintech terbesar di Indonesia.Baca juga: KPPU Denda TikTok Rp 15 Miliar Karena Telat Lapor Akuisisi TokopediaAwal 2024, Hans ditunjuk sebagai Chief Operating Officer GoTo dan bertanggung jawab atas strategi grup serta proyek migrasi cloud perusahaan. Perannya kembali diperluas pada Juli 2025, ketika ia dipercaya sebagai Presiden On-Demand Services.Sebelum bergabung dengan Gojek, Hans memiliki pengalaman internasional dengan bekerja di Amerika Serikat, China, dan Singapura. Ia juga pernah menjabat sebagai Partner di firma konsultan manajemen global McKinsey.YouTube.com/Gojek Goto, layanan Gojek dan Tokopedia.Penunjukan CEO baru ini terjadi di tengah sorotan pasar terhadap arah strategis perusahaan hasil merger antara Gojek dan Tokopedia itu.Berdasarkan laporan Bloomberg, saham GoTo tercatat naik sekitar 20 persen sepanjang kuartal ini di Bursa Efek Indonesia, mengungguli kinerja sejumlah perusahaan ride-hailing dan pengantaran global.Kenaikan saham tersebut terjadi menjelang Rapat Umum Pemegang Saham yang menjadi momen penting bagi arah strategis perusahaan, termasuk persetujuan pengangkatan Hans Patuwo sebagai CEO baru.Meski saham GoTo menguat, valuasi perusahaan masih jauh dari masa awal IPO. Kapitalisasi pasar GoTo kini berada di bawah 5 miliar dollar AS, turun drastis dari puncaknya yang sempat menembus 30 miliar dollar AS pada 2022.

| 2026-02-03 06:39