DI BENTANG lahan tandus Nusa Tenggara Timur (NTT) dan wilayah kering berbatu lainnya di Indonesia Timur, ada satu pohon perkebunan rakyat tumbuh kokoh menjadi penopang perekonomian rakyat, yaitu jambu mete.Di bawah terik matahari dan minim hujan, pohon jambu mete mampu berbuah lebat saat tanaman pangan lain merana.Bagi banyak keluarga petani kecil di desa-desa gersang, panen mete bak oase di tengah gurun. Komoditas inilah yang mengisi kantong mereka ketika komoditas lain tak mampu diandalkan.Tak heran bila jambu mete kian dijuluki “penyelamat” ekonomi lokal, sekaligus membawa manfaat ekologis dan sosial yang tak terduga.Jambu mete adalah salah satu komoditas paling “merakyat” di Indonesia. Data Kementerian Pertanian (2021) menunjukkan bahwa 99,78 persen produksi mete nasional dihasilkan oleh perkebunan rakyat, bukan perusahaan besar.Artinya, hampir seluruh mata rantai produksi bersentuhan langsung dengan rumah tangga petani miskin.Secara nasional, produksi jambu mete meningkat dari sekitar 116.000 ton pada 2013 menjadi 166.000 ton pada 2021, dengan laju pertumbuhan rata-rata 4,5 persen per tahun.Menariknya, peningkatan ini terjadi meski luas areal justru menyusut sekitar 2,6 persen per tahun. Artinya, ada perbaikan produktivitas, meski masih jauh dari optimal.Sentra utama mete Indonesia berada di NTT dan Sulawesi Tenggara, dua provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi.NTT menyumbang sekitar 33 persen produksi nasional dengan luas kebun mencapai 173.000 hektare dan ratusan ribu petani penggarap.Sulawesi Tenggara menyusul dengan kontribusi sekitar 25 persen produksi nasional, mengandalkan lebih dari 100.000 hektare kebun mete rakyat.Di pasar kota, kacang mete dikenal sebagai camilan premium. Harga mete olahan bisa mencapai Rp 150.000 hingga Rp 450.000 per kilogram, tergantung kualitas.Namun di tingkat petani, biji mete mentah sering hanya dihargai sekitar Rp 15 ribu per kilogram. Jurang nilai ini mencerminkan masalah struktural dalam tata niaga mete.Indonesia selama ini lebih banyak mengekspor mete dalam bentuk biji mentah (gelondongan) ke Vietnam dan India. Di sana, mete diolah menjadi produk bernilai tinggi, lalu sebagian kembali ke Indonesia dalam bentuk impor.Data perdagangan menunjukkan bahwa pertumbuhan impor mete Indonesia bahkan lebih cepat daripada ekspornya, dengan laju hampir 58 persen per tahun dalam satu dekade terakhir.
(prf/ega)
Asa Pohon Mete di Tanah Gersang
2026-01-12 05:57:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:31
| 2026-01-12 06:26
| 2026-01-12 05:45
| 2026-01-12 04:33










































