Sampah Campur dan Kondisi Geografis Bikin Biaya Daur Ulang di RI Membengkak

2026-01-12 16:05:47
Sampah Campur dan Kondisi Geografis Bikin Biaya Daur Ulang di RI Membengkak
JAKARTA, - Biaya perluasan tanggung jawab produsen (extended producer responsibility/EPR) semakin mahal akibat kondisi persampahan di Indonesia yang tidak terkelola dengan baik. Biaya EPR bertambah untuk kegiatan memilih-memilah sampah yang dapat didaur ulang."Jadi, memang kalau kita buang sampah itu dijadikan satu, baik itu yang bisa didaur ulang atau tidak, sehingga hal tersebut sebetulnya sudah membuat harganya lebih mahal dalam konteks EPR karena sampah harus dipilah lagi," ujar Community Coordinator National Plastic Action Partnership, Bunga Karnisa Goib di Jakarta, Rabu .Kondisi persampahan di Indonesia berisiko merusak bahan baku untuk daur ulang karena tercampur dengan berbagai jenis limbah lainnya. Imbasnya, biaya EPR untuk mendaur ulang akan akan membengkak.Baca juga: Sampah Jadi Energi, Namun Tata Kelola Masih BerantakanIni diperparah dengan kebiasaan masyarakat Indonesia membuang sampah sembarangan. Sampah yang hanyut ke sungai atau laut sudah sangat sulit untuk didaur ulang.Infrastruktur untuk daur ulang sampah di Indonesia juga belum merata. Kata dia, infrastruktur untuk daur ulang sampah hanya terkonsentrasi di kota-kota Jawa."Beberapa waktu lalu, tim kami mengunjungi Raja Ampat, di sana banyak sampah yang bisa didaur ulang. (Tapi karena) Hampir semua pabrik untuk daur ulang itu ada di Jawa, akhirnya yasudah dibuang saja ke TPA (tempat pembuangan akhir). Untuk mengirim (sampah) dari Raja Ampat ke Jawa biayanya sangat mahal, enggak ke tutup," tutur Bunga.General Manager Indonesia Packaging Recovery Organization (IPRO), Reza Andreanto mengatakan, kondisi geografis sebagai negara kepulauan menjadi tantangan berat dalam pengumpulan sampah untuk daur ulang di Tanah Air.“Kita (mempunyai) 17 ribu pulau dan beberapa pulau-pulau besar atau kecil itu ranging geographical challenge-nya luar biasa. So then, paling tipikal sebagai challenge di Indonesia itu adalah collection cost. Itu yang paling tipikal bottleneck-nya itu di situ," ucapnya.Untuk mengatasi mahalnya biaya tersebut, kata dia, perlu kontribusi dari industri melalui skema EPR dengan membangun infrastruktur maupun menyediakan insentif bagi upaya pengumpulan sampah. Ia berharap pemerintah menjadikan skema-skema tersebut sebagai mandatori berlandaskan peraturan melalui melalui Peraturan Presiden (Perpres) terkait pelaksanaan EPR yang dijadwalkan diterbitkan pada akhir tahun ini."Saat ini terkesan voluntary (sukarela) karena hanya industri itu-itu saja yang aktif. Tetapi, industri yang lain belum tentu komplit," ujar Reza.Sementara itu, Director of Public Affairs, Communications and Sustainability The Coca-Cola Company Indonesia, Trijono Prijosoesilo menggarisbawahi pentingnya mengedukasi konsumen demi memudahkan pengumpulan sampah untuk daur ulang.The Coca-Cola Company Indonesia, kata dia, mendorong konsumennya untuk mengantarkan botol-botol kemasan produknya ke pusat pengumpulan (Collection Center) yang sudah menjadi mitranya. The Coca-Cola Company Indonesia memberikan insentif atas pengumpulan sampah oleh konsumen, yang dikirimkan melalui e-wallet.Baca juga: KLH: Indonesia Darurat Sampah, Tiap Tahun Ciptakan Bantar Gebang BaruSelain itu, The Coca-Cola Company Indonesia juga mendesain kembali botol kemasan produk-produknya agar menjadi ramah daur ulang. “Kami mencoba mengurangi penggunaan plastik dari awal. Jadi, desainnya juga kami kelola,” tutur Trijono.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#3

Namun, mengingat harga merupakan aspek yang sensitif bagi beberapa pasar berkembang, seperti Indonesia maupun India, vendor ponsel kabarnya bakal menggunakan strategi lain, selain kenaikan harga.Menurut bocoran yang dibagikan di blog Naver Korea Selatan, vendor ponsel kemungkinan memangkas RAM HP. Karena itu, beberapa ponsel dengan RAM 16 GB kemungkinan menjadi produk yang cukup langka.Sebaliknya, ponsel dengan RAM 4 GB justru akan lebih mendominasi ketimbang saat ini. Bocoran itu juga menyebutkan bahwa ponsel dengan RAM 12 GB bisa dipangkas hingga 40 persen, hingga menjadi 6 GB atau 8 GB. Sementara model yang biasanya dibekali RAM 8 GB, dipotong hingga 50 persen menjadi 4 GB atau 6 GB.Sayangnya, walaupun konfigurasi RAM beberapa ponsel tahun depan dipangkas, harganya tetap lebih mahal dibanding model sebelumnya, dilansir Gizmochina.Adapun kenaikan harga HP terjadi sebagian besar karena meningkatnya pemintaan memori di berbagai industri termasuk untuk data center kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga menimbulkan kelangkaan pasokan.Hal tersebut juga diamini oleh Xiaomi, hingga menyatakan bahwa harga produknya tahun depan meningkat.Baca juga: Ini Sebab Harga Memori RAM di Indonesia NaikXiaomi sudah mengumumkan rencana kenaikkan harga smartphone baru mulai tahun depan. Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Xiaomi, Lu Weibing dalam konferensi pers terkait laporan pendapatan perusahaan pada November 2025 lalu.Ia mengataka bahwa keputusan ini diambil karena semakin mahalnya harga chip memori, akibat melonjaknya permintaan untuk server kecerdasan buatan (AI).Tingginya permintaan chip memori untuk server juga membuat perusahaan seperti Samsung, memangkas produksi chip memori termasuk untuk ponsel, dan mengalihkannya ke memori bandwidth tinggi (high bandwidth memory).Xiaomi Redmi Note 15 Pro 5G.

| 2026-01-12 15:16