JAKARTA, - Ada harga yang harus dibayar dalam mewujudkan pendidikan digital: Kesehatan mental anak.Transformasi digital dalam dunia pendidikan membawa harapan besar akan akses belajar yang lebih luas, materi yang lebih interaktif, serta peluang pengembangan diri yang tidak dibatasi ruang dan waktu.Gadget, platform belajar daring, hingga kecerdasan buatan kini menjadi bagian dari ruang kelas modern.Namun, di balik kemudahan dan inovasi tersebut, ada dinamika baru yang turut membentuk pola pikir, emosi, dan perilaku anak.Baca juga: Melacak Sebab Turunnya Minat Anak Muda untuk Jadi GuruPerubahan cepat ini tidak hanya menuntut adaptasi akademik, tetapi juga kesiapan psikologis.Anak-anak yang tumbuh di era digital menghadapi paparan konten tanpa batas, tekanan sosial dari media, serta pola interaksi yang semakin minim kontak emosional langsung.Hal-hal tersebut dapat memengaruhi perkembangan emosi, empati, hingga kemampuan mengelola stres.Akibatnya, di tengah kemajuan teknologi, muncul tantangan baru berupa kesehatan mental si anak, meliputi gejala agresivitas, kecemasan, dan perilaku impulsif pada sebagian anak.Ketika proses belajar berubah drastis mengikuti perkembangan teknologi, anak-anak ikut membawa beban adaptasi yang besar.Tanpa pendampingan yang tepat dari guru, orang tua, dan sekolah, transformasi digital yang seharusnya menjadi peluang justru dapat menyisakan dampak emosional yang panjang.Ekses kesehatan mental anak tentu harus dibayar dengan solusi dan mitigasi yang jitu.Baca juga: Konten Sosmed Bisa Bikin Anak Jadi Agresif?Dilansir tulisan ilmiah berjudul Pengaruh Penggunaan Teknologi Pembelajaran terhadap Prestasi Belajar Siswa di Sekolah Menengah (2023) karya Hilda Nathaniela dan Nadya Saphira, penggunaan teknologi pembelajaran memberikan dampak yang signifikan terhadap proses pembelajaran dan prestasi belajar siswa.Namun, ada juga dampak negatif seperti potensi kecanduan digital, distraksi, kesenjangan akses di daerah terpencil, serta potensi berkurangnya apresiasi terhadap nilai kearifan lokal jika tidak diintegrasikan dengan baikPsikolog dari Universitas Indonesia, A Kasandra Putranto, mengatakan dampak negatif berupa kecanduan digital dapat mempengaruhi perkembangan otak dan kondisi psikologis remaja."Hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat pemetaan otak UCLA 2016, mereka menemukan bahwa daerah tertentu dari otak remaja menjadi lebih aktif karena media sosial, sehingga menyebabkan mereka ingin menggunakan media sosial lebih banyak," kata Kasandra mengutip ANTARA.Baca juga: Bullying dan Kesehatan Mental Anak Jadi Kekhawatiran Orangtua, Ini Saran Pakar Keluarga
(prf/ega)
Menuju Pendidikan Digital, Kesehatan Mental Jadi Harga yang Harus Dibayar
2026-01-12 02:32:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 01:53
| 2026-01-12 01:13
| 2026-01-12 01:02
| 2026-01-12 00:41
| 2026-01-12 00:34










































