JAKARTA, - Perlu waktu lama untuk menapaki keindahan puluhan provinsi di Indonesia. Lewat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), masyarakat Indonesia dan turis asing, dapat melihat garis besar keindahan budaya Tanah Air dalam waktu singkat.Ini adalah gambaran besar Siti Hartina atau yang akrab disapa Tien Soeharto, saat pertama kali menggagas pembangunan TMII.“Tempat ini (TMII) idenya dari Tien Soeharto saat pergi ke Belanda dan melihat satu tempat bernama Madurodan, tempat di mana ada landmark-landmark dunia,” kata Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jakarta, Indra Diwangkara, di tengah kegiatan Jakarta Ecotourism Festival 2025 rute Jakarta Timur, Selasa .Baca juga: Oakwood Hotel & Apartments Taman Mini Jakarta Diresmikan, Tarif Menginap Rp 800.000-anSementara itu, dikutip dari Kompas.com, Rabu , inspirasi Tien Soeharto dalam menggagas TMII datang saat ia mengunjungi Disneyland di Amerika Serikat (AS) pada 1971.Dalam buku “Dutch Culture Overseas: Praktik Kolonial di Hindia Belanda 1900-1942” (1995) oleh Frances Gouda, ketika melihat Disneyland, Tien Soeharto lantas ingin bisa membangun taman bermain seperti Disneyland dengan menonjolkan spirit ke-Indonesiaan.Sayangnya, rencana pembangunan miniatur Indonesia oleh Tien Soeharto ternyata mengundang protes dari mahasiswa karena dianggap menelan biaya fantastis hingga Rp 10,5 miliar.Baca juga: Pengalaman Menonton Atraksi Burung di Taman Burung TMIIPadahal di waktu yang sama, mantan Presiden Soeharto sedang menyampaikan anjuran hidup prihatin lantaran sebagian besar masyarakat masih hidup dalam taraf kemiskinan. Soeharto bahkan menekankan agar pembangunan didasarkan pada skala prioritas.Gagasan pembangunan TMII pun akhirnya dianggap bukan prioritas oleh para mahasiswa yang disampaikan dalam bentuk diskusi dan seminar.Menanggapi protes tersebut, Tien Soeharto sampai menggelar konferensi pers yang juga dihadiri para pejabat tinggi negara dan menegaskan pembangunan TMII telah sesuai dengan prosedur, sebagaimana diberitakan dalam Harian Kompas pada 8 Januari 1972.Baca juga: Harga Sewa Mobil di Manado, Ini Kisarannya Terkait sumbangan dari pemerintah kepada Yayasan Harapan Kita selaku pengelola pembangunan TMII, Tien Soeharto menjawab tak ada masalah dan menilai wajar bila Yayasan Harapan Kita yang diketuai olehnya mendapat sumbangan dari pemerintah untuk pembangunan TMII.“Akan tetapi, kalau pemerintah memberikan sumbangan apa salahnya," kata Tien Soeharto dalam berita tersebut.Pembangunan TMII tetap berjalan, meski gelombang protes dari mahasiwa terus mengalir. Puncaknya, kekesalan mahasiswa terhadap pembangunan TMII terakumulasi dengan masalah kemiskinan dan korupsi pemerintahan terwujud dalam peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974).Setelah kerusuhan Malari mereda, pembangunan TMII justru semakin dikebut. Mimpi Tien Soeharto untuk membangun miniatur Indonesia pun akhirnya terwujud. TMII diresmikan pada 20 April 1975.Baca juga: Tak Perlu Tukar Uang, QRIS Bisa Dipakai di Korea Selatan Mulai 2026!
(prf/ega)
Sejarah TMII, Wisata Miniatur Indonesia yang Digagas Tien Soeharto
2026-01-12 06:00:51
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 06:03
| 2026-01-12 05:44
| 2026-01-12 05:28
| 2026-01-12 03:50










































