Massa Buruh dari Jawa Barat Konvoi ke Monas, Jalan Medan Merdeka Padat

2026-01-16 09:25:53
Massa Buruh dari Jawa Barat Konvoi ke Monas, Jalan Medan Merdeka Padat
JAKARTA, - Sejumlah buruh yang konvoi dari berbagai wilayah Jawa Barat, tiba di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, untuk menggelar aksi pada Selasa .Mereka menuntut Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi merevisi Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) se-Jawa Barat.Pengamatan Kompas.com di lokasi, konvoi yang diikuti ribuan motor tersebut tiba dari arah Tugu Tani pada pukul 12.40 WIB.Baca juga: Massa Buruh Mulai Tiba di Monas untuk Demo Revisi UMSK Jawa BaratKedatangan konvoi tersebut disambut oleh para buruh yang sudah berada di depan BSI Tower."Selamat datang para buruh dari Jawa Barat. Selamat berjuang," ucap salah satu peserta aksi dari mobil komando di depan BSI Tower.Para buruh yang melakukan konvoi mengenakan baju lengan panjang berwarna hitam dan bertuliskan "Garda Metal,".Mereka kemudian memarkirkan motor di sisi Jalan Medan Merdeka Selatan di dekat Monas.Koordinator aksi yang berada di mobil komando kemudian menghimbau para peserta aksi untuk merapat ke sisi mobil komando.Akses jalan dari Jalan Medan Merdeka Selatan menuju patung kuda kemudian ditutup oleh buruh. Kondisi tersebut menyebabkan kepadatan lalu lintas mulai dari depan Menara Danareksa.Para buruh mengimbau antrean kendaraan tersebut untuk memutar balik arah melewati Stasiun Gambir. Sejumlah polisi di lokasi terlihat mencoba mengurai kemacetan tersebut.Baca juga: 2.617 Personel Polisi Dikerahkan Amankan Demo Buruh Jawa Barat di Monas Hari IniMassa buruh dan polisi sempat cekcok saat petugas meminta demonstran membuka akses jalan agar salah satu truk bisa melintas melalui Jalan H. Agus Salim.Cekcok tersebut bisa cepat diredam usai truk tersebut diperbolehkan melintas.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 12 Tahun 2025 yang mengatur Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang ditanggung pemerintah untuk kendaraan listrik tertentu.Namun, penghentian insentif diprediksi membuat penjualan BEV pada tahun depan melambat.“Tentu itu akan merubah penjualan mobil listrik, apalagi saat ini kondisi ekonomi kita masih menantang. Penggerak roda industri otomotif kan pada middle income class,” ujar Yannes saat ditemui belum lama ini.Meski begitu, Yannes menekankan bahwa pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah.“Total segmentasi BEV kemungkinan akan melambat, tetapi pertumbuhan kelak akan digerakkan BEV rakitan lokal ya,” lanjutnya.Meski begitu, Yannes menilai pasar kendaraan elektrifikasi secara keseluruhan belum tentu melemah. Segmen hybrid electric vehicle (HEV) diperkirakan akan tumbuh, karena menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar tanpa kekhawatiran jarak tempuh.“Segmentasi HEV akan sangat subur, karena konsumen rasional akan memilih HEV sebagai safe haven. Efisiensi BBM ada, range anxiety nol,” ujar Yannes.Ia menambahkan, untuk menjaga momentum pertumbuhan kendaraan listrik, peran kelas menengah menjadi kunci.“PR kita pertama adalah menaikkan middle income class kita. Ekonomi tolong buktikan bisa tembus 5,4 persen tahun ini dan 6 persen di tahun depan,” kata Yannes.Baca juga: Mobil Listrik Indonesia: BYD Dominasi, Jaecoo dan Wuling Bersaing/Adityo Wisnu Mobil hybrid Rp 300 jutaan“Dan janji di 2029 tercapai, yaitu 8 persen. Itu baru kita bisa belanja dengan enak lagi,” tutupnya.Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil berbasis baterai sepanjang 2025 mencatat pertumbuhan signifikan.Dari Januari hingga November 2025, wholesales BEV telah mencapai 82.525 unit, naik 113 persen dibanding periode sama tahun lalu.Segmen PHEV juga mencatat lonjakan luar biasa, meningkat 3.217 persen menjadi 4.312 unit, sementara mobil hybrid mengalami pertumbuhan 6 persen, dari 53.986 unit pada periode sama tahun lalu menjadi 57.311 unit.

| 2026-01-16 12:32