Kisah Yulianus Yesnath, 22 Tahun Mengabdi Menjadi Guru dan Kepala Sekolah di Perbatasan RI-PNG

2026-01-12 03:56:24
Kisah Yulianus Yesnath, 22 Tahun Mengabdi Menjadi Guru dan Kepala Sekolah di Perbatasan RI-PNG
KEEROM, - Yulianus Yesnath, seorang guru sekaligus Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri Bias, Distrik Towe, Kabupaten Keerom, Papua, telah mengabdikan dirinya sebagai pendidik sejak 2003.Ia merupakan salah satu tenaga pengajar yang diangkat pertama kali saat penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Kabupaten Keerom setelah pemekaran wilayah melalui Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002."Saya menjadi guru sejak 2003, setahun setelah pemekaran Kabupaten Keerom. Saat itu, pertama kali dibuka perekrutan CPNS untuk pertama kali di Kabupaten Keerom," ungkap Yulianus kepada Kompas.com, Kamis .Setelah diangkat sebagai guru pegawai negeri sipil (PNS), Yulianus langsung ditempatkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom sebagai guru SD di Kampung Ampas, Distrik Waris.Ia mengabdi di SD Impres Kampung Ampas selama 15 tahun, melayani anak-anak di wilayah perbatasan RI-PNG.Baca juga: Kisah Zubaidah, Guru SDN Simu Sumbawa Atasi Keterbatasan Teknologi di Desa dengan Inovasi Pembelajaran"Penempatan saya pertama sebagai guru di SD Impres Kampung Ampas selama 15 tahun mengajar di sana," ujarnya.Selama masa pengabdiannya, Yulianus menghadapi tantangan infrastruktur yang belum memadai. Namun ia tetap berkomitmen memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak Papua di daerah tersebut."Di mana kita ditempatkan, maka kita harus melayani dengan baik. Itulah yang saya lakukan selama 15 tahun menjadi guru di SD Negeri Impres Ampas," tambahnya.KOMPAS.COM/DOK SD BIAS Kepala SD Negeri Bias, Yulianus Yesnath (kanan), mendampingi Bupati Keerom, Piter Gusbager (tengah) melewati lapangan tebang perintis, saat hendak meninjau langsung SD Negeri Bias pada 17 September 2025 di Kampung Bias, Distrik Towe, Kabupaten Keerom, Papua.Sekitar tahun 2018, Yulianus dipercaya oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Keerom untuk menjabat sebagai Kepala SD Negeri Bias.Perjalanan menuju SD Negeri Bias dari ibu kota Kabupaten Keerom memakan waktu 8-10 jam melalui jalur darat, dengan kondisi jalan yang belum sepenuhnya diaspal.Awal bertugas di SD Negeri Bias, Yulianus mengenang bahwa jalan trans-Papua yang menghubungkan Kabupaten Keerom dan Kabupaten Pegunungan Bintang di wilayah Towe belum dibangun.Baca juga: Kisah Asmiati Mengabdi Jadi Guru di Pedalaman, Pernah Jatuh ke Jurang hingga Tinggal di Kelas dengan Sekat Gorden"Waktu itu, kami kalau mau ke Kampung Bias lokasi SD ini harus lewat Distrik Senggi, baru menggunakan perahu motor yang dibawa oleh masyarakat menyusuri sungai ke Kampung Towe Hitam, pusat Distrik Towe, baru dijemput oleh masyarakat ke Kampung Bias," kenangnya.Selain jalur darat, akses udara juga menjadi pilihan bagi para guru dan tenaga kesehatan di Kampung Bias, menggunakan pesawat perintis milik Misi AMA untuk keperluan medis."Jika ada yang sakit dan butuh penanganan cepat, maka biasanya kami hubungi pesawat AMA untuk datang dan membawa guru atau nakes yang hendak berobat ke Jayapura," kata Yulianus.


(prf/ega)