Kepala Regional SPPG DIY Klaim Siswa Diduga Keracunan MBG di Gunungkidul Sudah Stabil

2026-02-07 13:46:19
Kepala Regional SPPG DIY Klaim Siswa Diduga Keracunan MBG di Gunungkidul Sudah Stabil
YOGYAKARTA, - Lebih dari 600 siswa di Gunungkidul diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Seluruh siswa saat ini dilaporkan sudah membaik.Kepala Regional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Gagat Widyatmoko, mengatakan berdasarkan data sementara terdapat 36 siswa yang dirawat di Puskesmas Saptosari.Sementara itu, RSUD Saptosari menangani 18 siswa dengan gejala ringan.“Seluruh siswa yang dirawat dilaporkan dalam kondisi stabil dan telah mendapatkan penanganan medis yang memadai,” ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu .Baca juga: Air Tercemar Bakteri E. Coli Diduga Jadi Penyebab Ratusan Siswa Keracunan MBG di GunungkidulDia menambahkan hasil pendataan awal melalui kuesioner di sekolah, mencatat jumlah siswa sebanyak 476 di SMK N 1 Saptosari dan 186 di SMP N 1 Saptosari. Atau jika ditotal sejumlah 662 siswa.Namun, dia tidak menjelaskan apakah ratusan siswa tersebut mengalami gejala diare atau tidak.“Data pasti jumlah siswa terdampak masih dalam proses pendataan oleh Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat,” ujar dia.“Untuk jumlah pasti terdampak dan bergejala, kami masih menunggu hasil Tracing Surveillance oleh Dinkes untuk mengetahui jumlah pasti selaku yang berwenang untuk mendalami jumlah terdampak,” imbuhnya.Baca juga: Pemerintah Gunungkidul Siapkan Rp100 Juta untuk Pengobatan 695 Siswa Diduga Keracunan MBGIa menambahkan, sebagai bentuk tanggung jawab, BGN segera mengambil langkah.Pertama, melakukan koordinasi langsung dengan Puskesmas, RSUD, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul untuk menelusuri penyebab kejadian.Selain itu, juga akan mengirimkan tim monitoring untuk mendampingi investigasi di lapangan.Pendampingan komunikasi dengan pihak sekolah dan orang tua siswa juga akan dilakukan agar informasi tersampaikan secara akurat.Operasional SPPG Planjan-Saptosari juga akan diberhentikan sementara untuk kepentingan investigasi dan evaluasi menyeluruh terhadap proses pengolahan serta distribusi makanan.“Kami memastikan seluruh peserta didik yang terdampak telah mendapatkan penanganan medis yang memadai, dan sebagian besar sudah membaik,” ucapnya.Baca juga: Bupati Gunungkidul Sidak Dapur MBG Usai 695 Siswa Keracunan, Temukan Banyak Kejanggalan“Keputusan penghentian sementara operasional ini dilakukan sebagai langkah kehati-hatian serta bentuk komitmen BGN untuk menjamin keamanan pangan,” kata Gagat.Sebelumnya, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengungkapkan bahwa lebih dari 600 siswa mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Saptosari."Hari ini sudah kita hitung 695 anak terdampak diduga keracunan MBG," kata Endah saat ditemui di RSUD Saptosari pada Rabu .Dari total tersebut, siswa yang terdampak terdiri dari SMK N 1 Saptosari dan SMP N 1 Saptosari. Mereka telah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Saptosari dan RSUD Saptosari."Populasi SMK N 1 Saptosari sebanyak 1.154 anak, yang keracunan 476 anak, termasuk 10 guru. Dari 33 siswa yang hari ini izin tidak masuk, belum terkonfirmasi apakah keracunan atau tidak," jelasnya.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Dalam pembukaan forum yang berlangsung di Hedley Bull Lecture Theater 3 tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq juga menekankan bahwa pembudayaan Bahasa Indonesia tak lagi hanya menjadi urusan domestik, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi diplomasi yang relevan di tengah perubahan geopolitik kawasan.Ia menyebut bahwa posisi Indonesia dan Australia yang semakin strategis dalam dinamika Indo-Pasifik membuat penguatan bahasa menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.Menurutnya, kedua negara tidak hanya berbagi kedekatan geografis dan hubungan diplomatik yang panjang, tetapi juga berada pada simpul penting ekonomi masa depan.Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dan Australia sama-sama memiliki peran besar dalam rantai pasok mineral strategis yang menjadi tulang punggung transisi energi dan industri berkelanjutan. Situasi ini menempatkan kerja sama kedua negara bukan semata hubungan bilateral, tetapi bagian dari arsitektur geoekonomi global.Di atas fondasi itulah, bahasa dan pendidikan dipandang sebagai jembatan yang memperkuat kemitraan jangka panjang. Penguasaan Bahasa Indonesia di Australia maupun peningkatan pemahaman budaya di kedua belah pihak diyakini mampu memperluas ruang kolaborasi, mulai dari dunia akademik, industri, hingga diplomasi publik.“Saya hadir mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Bapak Abdul Mu’ti dalam acara Kongres Pertama Bahasa Indonesia ini untuk menegaskan komitmen pemerintah Indonesia dalam memperkuat peran Bahasa Indonesia di kawasan regional dan global melalui diplomasi pendidikan dan kebudayaan,” tegasnya.

| 2026-02-07 13:58