Awal Mula Kasus Guru Nur Aini, ASN yang Diberhentikan Karena Keluhkan Jarak ke Sekolah

2026-01-15 03:36:52
Awal Mula Kasus Guru Nur Aini, ASN yang Diberhentikan Karena Keluhkan Jarak ke Sekolah
- Kasus guru Nur Aini (38) kembali mencuat ke publik seusai Aparatur Sipil Negara (ASN) asal Pasuruan, Jawa Timur, itu diberhentikan.Kepala Bidang Penilaian Kinerja Aparatur dan Penghargaan BKPSDM Kabupaten Pasuruan, Devi Nilambarsari, mengatakan, surat keputusan pemberhentian sudah disampaikan langsung ke rumah Nur Aini.Menurutnya, Nur Aini melanggar Pasal 4 huruf f Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil tentang kewajiban masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja."Seperti diketahui kategori pelanggaran berat bagi ASN yakni tidak masuk 10 hari berturut-turut tanpa alasan atau 28 hari komulatif dalam satu tahun. Sedangkan NA diketahui tidak masuk kerja tanpa alasan lebih dari batas itu,” Devi, dikutip dari Kompas.com, Senin . Kasus guru Nur Aini bermula dari curhatan ASN tersebut di media sosial pada November 2025 silam.Lantas, bagaimana awal mula kasus guru Nur Aini yang viral di media sosial?Baca juga: Mengapa Curhat Guru Nur Aini soal Jarak Mengajar 57 Km Berujung Pemecatan ASN?Nur Aini adalah pengajar di SDN Mororejo II, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.Namanya viral di media sosial setelah curhat di TikTok soal jauhnya perjalanan yang ditempuh ke sekolah.Melalui video yang diunggah pengacara Cak Sholeh di akun TikTok0nya pada Jumat , guru Nur Aini mengaku harus menempuh perjalanan sejauh 57 kilometer (km) dari rumahnya di Bangil ke tempatnya mengajar.Karena jarak yang jauh itu, Nur Aini terpaksa berangkat jam setengah enam pagi agar bisa tiba tepat waktu di sekolah.Dia juga mengatakan, untuk mencapai sekolah harus menggunakan jasa ojek atau diantar suaminya."Kalau berangkat jam setengah 6 pagi, nyampe setengah 8 lebih," kata Nur Aini dalam podcast bersama Cak Sholeh, dikutip dari Kompas.com . Melalui curhatan itu, Aini bermaksud supaya pemerintah daerah memberikan keadilan dan memindahkannya ke sekolah yang lebih dekat.Selain itu, Nur Aini juga mengajukan pindah mengajar karena kondisi kesehatannya.Dia menyebut, saat ini, dirinya sedang menjalani perawatan.Baca juga: Mutasi Ditolak, Pemecatan Jadi Akhir Karier Guru Nur Aini sebagai ASN


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

di sela acara peluncuran AI Innovation Hub di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat, Selasa .Baca juga: Telkomsel Resmikan AI Innovation Hub di ITB, Perkuat Pengembangan AI NasionalDalam menyikapi AI Bubble, salah satu langkah konkret yang dilakukan Telkomsel adalah tidak gegabah melakukan investasi besar pada infrastruktur AI, seperti pembelian perangkat komputasi mahal, tanpa perhitungan pengembalian yang jelas.Menurut Nugroho, perkembangan teknologi AI sangat cepat, sehingga investasi perangkat keras yang dilakukan terlalu dini berisiko menjadi tidak relevan dalam waktu singkat.“Kalau kami investasi terlalu besar di awal, tapi teknologinya cepat berubah, maka pengembalian investasi (return on investment/ROI) akan sulit tercapai,” ungkap Nugie.Sebagai gantinya, Telkomsel memilih pendekatan yang lebih terukur, antara lain melalui kolaborasi dengan mitra, pemanfaatan komputasi awan (cloud), serta implementasi AI berbasis kebutuhan nyata (use case driven).Baca juga: Paket Siaga Peduli Telkomsel, Internet Gratis untuk Korban Bencana di SumateraWalaupun ancaman risiko AI Bubble nyata, Telkomsel menegaskan bahwa AI bukan teknologi yang bisa dihindari. Tantangannya bukan memilih antara AI atau tidak, melainkan mengadopsi AI secara matang dan berkelanjutan.“Bukan berarti karena ada potensi bubble lalu AI tidak dibutuhkan. AI tetap penting, tapi harus diadopsi dengan perhitungan yang matang,” tutur Nugroho.Selain mengungkap sikap perusahaan soal AI Bubble, Nugroho juga menggambarkan fenomena adopsi alias tren AI di Indonesia.Nugroho menilai adopsi AI di sini relatif lebih terukur dibandingkan fase teknologi baru sebelumnya.Pengalaman pahit pada era startup bubble, menurut dia, membuat pelaku industri kini lebih berhati-hati dalam berinvestasi, terutama dengan maraknya AI.

| 2026-01-15 03:55