Harga Emas dan Perak Cetak Rekor pada 2025, Logam Industri Ikut Melonjak

2026-01-12 06:41:54
Harga Emas dan Perak Cetak Rekor pada 2025, Logam Industri Ikut Melonjak
- Harga emas dan perak mencatatkan rekor baru pada 2025, menandai salah satu tahun terbaik untuk kedua logam mulia tersebut. Namun, kenaikan tajam tidak hanya terjadi pada emas dan perak.Sejumlah logam industri juga mengalami lonjakan harga sepanjang 2025, di antaranya tembaga, aluminium, baja, serta logam baterai litium.Dikutip dari Yahoo Finance, Minggu , kenaikan harga emas dan perak didorong oleh pembelian sebagai aset aman di tengah ketidakpastian global.Sedangkan lonjakan logam industri terkait dengan pembangunan kecerdasan buatan (AI) dan transisi energi yang meningkatkan permintaan.Baca juga: Mengapa Emas Disebut Logam Mulia?Manajer Produk Indeks Komoditas Bloomberg, Jim Wiederhold, mengatakan dunia bergerak dari ekonomi berbasis bahan bakar fosil menuju ekonomi yang didukung teknologi logam. "Masa depan adalah logam," katanya.Tembaga digunakan sebagai bahan kabel, baja untuk struktur bangunan, aluminium untuk rak pendingin, dan litium untuk baterai. Permintaan keempat logam ini terus meningkat.Data Trading Economics mencatat harga tembaga naik lebih dari 34 persen sepanjang tahun ini. Harga baja hot-rolled coil (HRC) dan aluminium masing-masing naik 27 persen dan 14 persen. Sementara harga litium meningkat 30 persen.Lonjakan harga tidak hanya didorong permintaan, tapi juga tekanan pasokan. Produksi tembaga terganggu akibat bencana lingkungan.Baca juga: Pengamat Proyeksi Harga Logam Mulia Bisa Kembali Menguat ke Rp 2,4 Juta per GramBanjir di tambang Kamoa-Kakula di Republik Demokratik Kongo pada Mei 2025 sempat menghentikan produksi. Setelah itu, runtuhnya terowongan di tambang Chile dan longsor di tambang Grasberg Indonesia semakin mempersempit pasokan.Di pasar litium, pemerintah China menghentikan operasi di tambang utama milik produsen baterai CATL, memicu kenaikan harga.Di sisi aluminium dan baja, kenaikan harga energi akibat perang Ukraina dan kebutuhan listrik untuk AI membatasi operasional pabrik pemurnian. China juga mendekati batas produksi aluminium, menurut laporan ING Bank.Wiederhold menambahkan, risiko geopolitik dan kebijakan larangan ekspor pemerintah ikut mendorong kenaikan harga logam.Baca juga: Dosen UGM Beri Tips Simpan Emas Saat Harga Logam Mulia Terus NaikKebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump juga menambah volatilitas. Saat ini, impor baja dan aluminium dikenakan tarif 50 persen. Tembaga semi-finished dan produk intensif tembaga juga dikenai tarif sama, kecuali bijih mentahnya.Pengumuman tarif tembaga pada Juli 2025 membuat pedagang memindahkan stok fisik ke AS, sehingga harga naik. Setelah pengecualian bijih tembaga diumumkan, harga turun lagi.Namun kekhawatiran kekurangan pasokan tetap tinggi. Adam Turnquist dari LPL Financial menyebut peningkatan penarikan tembaga dari gudang London Metal Exchange memperparah kekhawatiran ini.


(prf/ega)