Awal Musim Hujan, DBD di Kota Yogyakarta Capai 249 Kasus

2026-02-05 07:04:55
Awal Musim Hujan, DBD di Kota Yogyakarta Capai 249 Kasus
YOGYAKARTA, - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mencatat ratusan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) pada awal musim penghujan.Sampai dengan pertengahan bulan November sudah ada 249 kasus.“Hingga pertengahan bulan November tercatat 249 kasus DBD,” ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, Selasa .Ia menambahkan bahwa catatan kasus ini menjadi perhatian khusus bagi Dinkes Kota Yogyakarta, mengingat puncak musim penghujan diprediksi pada Januari hingga Februari mendatang.Baca juga: Cerita Member Idol di Yogyakarta Tangkap Maling di IndekosnyaPada musim penghujan, identik dengan peningkatan populasi nyamuk Aedes Aegypti akibat kelembapan tinggi.Sebab itu, menurutnya perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak. Hal ini perlu agar angka kasus tidak semakin naik."Oleh karenanya, perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak agar kasus tidak melonjak drastis," kata dia.Baca juga: Kendalikan Inflasi di Kota Yogyakarta, Kios Segoro Amarto Dikembangkan hingga KelurahanEndang menyebut, pencegahan DBD hanya bisa dilakukan lewat Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta gerakan satu rumah juru pemantau jentik (jumantik) pada lingkungan tempat tinggal.Sementara untuk fogging, menurutnya, cenderung kurang efektif, karena hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak memberantas jentik.Endang menjelaskan, bahwa fogging merupakan langkah terakhir dalam menangani demam berdarah dengue. Selain itu, pihaknya juga mengatakan jika langkah ini tidak menjadi pilihan.Baca juga: Fenomena “Langit Bolong” di Atas Yogyakarta, Ini Penjelasan BMKG“Fogging menjadi senjata terakhir, dan sebenarnya tidak jadi pilihan,” jelas Endang.Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga tengah memperkuat sistem deteksi dini guna mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.Beberapa penyakit menjadi fokus kewaspadaan karena berpotensi menyebar luas, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Yogyakarta. Salah satunya DBD."Beberapa di antaranya yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), Leptospirosis, Difteri, Campak, Pertusis, Hepatitis, COVID-19, Pneumonia, dan ISPA," kata Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit dan Pengelolaan Data dan Sistem Informasi Kesehatan Dinkes Kota Yogyakarta, Lana Unwanah pada Jumat .Untuk mengatasi hal tersebut, Dinkes memperkuat Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta membangun jejaring kewaspadaan dengan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan (faskes).Baca juga: Yogyakarta Waspadai DBD hingga COVID-19, Dinkes Perkuat Sistem Deteksi Dini SKDRTahap pertama implementasi SKDR melibatkan 18 puskesmas di seluruh wilayah Kota Yogyakarta. Tahap kedua akan menyusul dengan melibatkan 20 rumah sakit, yang secara rutin melaporkan data mingguan untuk keperluan pemantauan dan analisis epidemiologi.Seluruh fasilitas kesehatan diminta agar menyusun tren mingguan penyakit potensial KLB untuk mendukung pengambilan keputusan cepat jika terjadi lonjakan kasus.


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#2

Hingga kini, tolok ukur tersebut baru mampu dicapai Ducati, yang mendominasi klasemen konstruktor dengan enam gelar juara beruntun.Honda tercatat sebagai pabrikan pertama yang naik level dalam sistem konsesi sejak skema A-B-C-D diberlakukan pada awal 2024.Honda berhasil melampaui ambang batas 35 persen poin, sehingga berhak bergabung dengan KTM dan Aprilia di kategori C.Baca juga: Cara Mengecas Motor Listrik yang Bikin Baterai AwetDengan perubahan itu, Yamaha kini menjadi satu-satunya pabrikan yang masih berada di kategori D.Dok. HRC Aleix Espargaro menjadi pebalap tes untuk Honda Racing Corporation (HRC)Kondisi tersebut membuat Yamaha tetap menikmati konsesi penuh, termasuk kebebasan pengembangan mesin serta tes privat bersama pebalap utama.“Ini soal di mana kami harus berada, kami harus ada di A. Jadi ini adalah langkah pertama yang logis yang harus kami lakukan,” kata Espargaro, dikutip dari Crash, Selasa .Kenaikan peringkat Honda tidak lepas dari performa solid pada akhir musim 2025.Pada seri penutup musim, Luca Marini finis di posisi ketujuh, hasil krusial yang dibutuhkan Honda untuk melampaui ambang batas poin konsesi.Baca juga: Persiapan Touring Libur Nataru: Ini Item yang Harus Dibawa BikerSelain Marini, performa positif juga ditunjukkan Joan Mir yang meraih beberapa podium, serta Johann Zarco yang berhasil memenangi satu balapan.AFP/LOIC VENANCE Pebalap LCR Honda, Johann Zarco, memacu motornya selama sesi latihan bebas di MotoGP Perancis 2025 di Sirkuit Le Mans pada 10 Mei 2025.Zarco pun menutup musim sebagai pebalap Honda terbaik di klasemen dunia, finis di posisi ke-12, unggul enam poin dari Marini.Espargaro turut menyoroti intensitas program pengujian yang dijalani Honda sepanjang musim. “Sungguh luar biasa seberapa banyak kami bekerja. Saya menjalani tes di Malaysia, lalu kembali ke Eropa, kemudian ke Aragon sebelum tampil wild card di Valencia. Ini menunjukkan besarnya komitmen Honda,” ujarnya.Terkait minimnya konsesi yang dimiliki Ducati, Espargaro membandingkannya dengan perkembangan motor Honda selama musim berjalan. “Dengan segunung material dan ratusan lap pengujian, perubahan motor dalam enam bulan terakhir sungguh luar biasa,” katanya. “Honda membawa banyak pembaruan untuk Joan dan Luca. Misalnya, kami memiliki tiga pembaruan mesin selama musim berjalan, dan mesin yang digunakan sekarang sangat cepat,” ucap Espargaro.Mulai seri pembuka MotoGP 2026, Honda akan bergabung dengan Ducati, KTM, dan Aprilia dalam aturan pembekuan mesin.Sementara itu, era baru MotoGP dengan mesin 850 cc dijadwalkan resmi dimulai pada 2027.

| 2026-02-05 05:53