Bitcoin (BTC) Rontok, Aset Kripto Berguguran Ikuti Koreksi Global

2026-01-12 09:19:13
Bitcoin (BTC) Rontok, Aset Kripto Berguguran Ikuti Koreksi Global
NEW YORK, JAKARTA, - Harga Bitcoin (BTC) kembali merosot dan turun ke bawah level 85.000 dollar AS, memperpanjang tren pelemahan yang berlangsung sejak pekan lalu. Tekanan ini ikut menarik turun saham-saham terkait aset kripto, seperti Robinhood yang jatuh 3,5 persen dan Coinbase yang terkoreksi 4,2 persen. Aset kripto utama lainnya, termasuk Ethereum dan XRP, juga tidak luput dari tekanan.Mengutip CBS News, Selasa , pelemahan Bitcoin dipicu oleh perkembangan ekonomi global. Salah satu pejabat Bank of Japan (BOJ) memberi sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan 18-19 Desember mendatang, sehingga mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset yang lebih aman. Kondisi tersebut menekan permintaan terhadap instrumen berisiko tinggi seperti aset kripto. Baca juga: Kejatuhan Bitcoin Picu Peringatan OJK untuk Investor DomestikArthur Hayes, Co-Founder BitMEX, menyebut melalui platform X bahwa anjloknya Bitcoin terjadi karena pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh BOJ.“Bitcoin anjlok karena BOJ membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember,” tulis Arthur Hayes, Co-Founder bursa kripto BitMEX, di platform X pada Senin pagi waktu setempat. Selain itu, penurunan selera risiko di pasar global turut memperberat tekanan pada Bitcoin. CEO deVere Group, Nigel Green, mengatakan pergerakan Bitcoin kini semakin mencerminkan dinamika saham teknologi AS.“Bitcoin semakin berperilaku sebagai indikator awal bagi pergerakan aset berisiko yang lebih luas, terutama saham teknologi di Amerika Serikat,” kata Green Baca juga: Bitcoin Bersiap Hadapi Kejutan The Fed di Desember, Diprediksi Bisa Picu Lonjakan HargaIa menilai pelemahan sekitar 4 persen di Nasdaq Composite berimbas pada penurunan hampir 30 persen nilai Bitcoin, menggambarkan kuatnya korelasi kedua aset tersebut. Menurutnya, Bitcoin kini berperan sebagai indikator awal bagi pergerakan aset berisiko, terutama saham-saham teknologi.Di sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada 9-10 Desember. Pasar menilai The Fed berpeluang kembali menurunkan suku bunga acuan, dengan probabilitas mencapai 87 persen berdasarkan CME FedWatch. Namun, analis memperingatkan bahwa pemangkasan tersebut mungkin disertai panduan bernada lebih hawkish, yang dapat membebani aset berisiko seperti Bitcoin. Baca juga: Proyeksi Harga Bitcoin 2026 Bikin Deg-degan: Terpuruk atau Terbang ke Level Tertinggi Sepanjang Masa?Adam Crisafulli, Kepala Vital Knowledge, menilai banyak faktor yang dapat memengaruhi arah pasar, bukan hanya keputusan suku bunga itu sendiri.“Ada banyak faktor yang bergerak, bukan hanya keputusan kebijakan itu sendiri,” ujar Crisafulli.Meski tekanan terhadap Bitcoin masih kuat, sebagian analis tetap optimistis terhadap prospeknya. CEO Patriarch Organization, Eric Schiffer, memperkirakan harga Bitcoin dapat kembali pulih tahun depan seiring kebijakan pelonggaran moneter yang lebih luas dari The Fed. Ia menegaskan bahwa pelemahan saat ini hanya bersifat jangka pendek. “Semua ini hanya bersifat jangka pendek,” katanya.


(prf/ega)