JAKARTA, — Kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta yang diduga dilakukan pelajar sekolah tersebut membuka kembali kekhawatiran akan akrabnya anak-anak dengan kekerasan yang disebabkan konsumsi media digital.Dari tontonan hingga permainan daring (game online), paparan terhadap konten kekerasan kini lebih mudah diakses oleh siapapun, termasuk anak-anak.Dampaknya tidak hanya menumpulkan empati, melainkan pula mendorong perilaku agresif dan ekstrem, seperti keinginan membuat bom atau membawa senjata.Sosiolog dari Universitas Indonesia Ida Ruwaida menilai, masyarakat kerap memandang kekerasan di media sebagai hiburan tanpa memahami dampak psikologisnya. Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Ikut Grup Pengagum Kekerasan Internasional“Tayangan-tayangan kekerasan melalui berbagai media, tidak hanya di game online tetapi juga film-film layar lebar, film layar kaca (TV), dan media visual lainnya, di masyarakat kita ada yang menganggapnya sebagai hiburan, tanpa menyadari dampak negatifnya,” ujar Ida kepada Kompas.com, Selasa .Menurut Ida, media memiliki peran besar dalam membentuk pola pikir dan perilaku seseorang, terutama anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan kognitif.“Apalagi kalau sudah menjadi pecandu muatan kekerasan. Padahal media bisa mempengaruhi cara pandang, sikap, juga perilaku, khususnya perilaku agresif dan anti sosial,” katanya.Ia menjelaskan, anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat (imitating behavior) karena literasi media mereka masih rendah. Baca juga: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Tiru Konten Kekerasan dari Dunia MayaMereka butuh pendampingan dan kontrol agar tidak menganggap kekerasan hanya sebagai permainan atau hiburan.Penyikapan yang permisif terhadap tayangan kekerasan justru memunculkan gejala “normalisasi kekerasan”.“Penyikapan seperti inilah yang melatari kecenderungan normalisasi kekerasan, karena sudah terjadi desensitisasi terhadap kekerasan,” ucap Ida.“Artinya, anak-anak tidak lagi sensitif, tidak mampu membedakan mana kekerasan dan mana yang bukan kekerasan, baik fisik maupun non-fisik seperti kekerasan verbal, psikis, atau ekonomi,” imbuh dia. Baca juga: Polisi: Pelaku Ledakan di SMAN 72 Jakarta Tertutup dan Suka Konten KekerasanDirektur Eksekutif Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menyebutkan, perlindungan anak di ruang digital saat ini belum berjalan maksimal."Bagi yang dewasa saja kita risih dan khawatir dengan konten kekerasan, pornografi, maupun perjudian online, apalagi untuk kelompok rentan seperti anak-anak,” ujar dia.Heru mengingatkan bahwa dampak konten berbahaya di dunia maya jauh lebih besar bagi anak-anak.
(prf/ega)
Anak-anak Gemari Kekerasan karena Media Digital, Antara Peran Pemerintah dan Keluarga
2026-01-12 04:07:54
Berita Lainnya
Berita Terpopuler
| 2026-01-12 02:59
| 2026-01-12 02:41
| 2026-01-12 02:14
| 2026-01-12 01:55










































