Dijebak Iming-iming Permen, Bocah 10 Tahun Disekap di Gudang Masjid Palembang

2026-01-31 05:01:58
Dijebak Iming-iming Permen, Bocah 10 Tahun Disekap di Gudang Masjid Palembang
Seorang anak berusia 10 tahun menjadi korban penyekapan di gudang masjid daerah Palembang, Sumatera Selatan. Korban mengaku dijebak oleh teman-temannya dengan iming-iming pemberian permen.Penyekapan yang menimpa korban juga viral di media sosial. Dalam rekaman video yang beredar, korban berteriak minta tolong dari dalam gudang masjid di kawasan Jalan Padat Karya, Sematang Borang, Palembang.Menurut keterangan korban, insiden itu terjadi pada Minggu sore setelah salat Ashar. Korban mengaku dijebak dengan iming-iming permen oleh kedua temannya. Setelah masuk ke dalam gudang, korban kemudian dikunci dari luar selama kurang lebih satu jam.Kapolsek Sako Palembang AKP Makmun mengatakan hingga saat ini pihaknya belum menerima adanya laporan resmi dari keluarga korban."Untuk laporannya (laporan polisi dsri keluarga korban) sampai saat ini belum ada kita terima," kata Makmun dilansir detikSumbagsel, Kamis .Makmun menyebut, meski keluarga korban belum melaporkan, pihaknya tetap akan menurunkan anggota Babinkamtibmas setempat untuk mengecek seperti apa kejadian yang sebenarnya terjadi."Iya akan kita cek ke lapangan, (Bhabinkamtibmas) akan cek dulu seperti apa kejadian yang katanya penyekapan itu, akan kita lidik dulu," jelasnya.Baca selengkapnya di sini


(prf/ega)

Berita Terpopuler

#4

Balai Gakkumhut Wilayah Jabalnusra telah melakukan penelusuran lapangan pada Minggu, 25 Oktober 2025. Titik yang diduga tambang ilegal berada di Desa Prabu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, sekitar 11 km (±30 menit) dari Sirkuit Mandalika. Verifikasi awal menunjukkan tambang rakyat di APL ±4 hektare yang berbatasan dengan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Prabu.Ekspansi sawit memperlihatkan bentuk lain dari keyakinan berlebihan manusia. Sawit dijanjikan sebagai motor ekonomi baru tetapi kita jarang bertanya mengapa keberhasilan ekonomi harus selalu diukur dengan skala penguasaan lahan.Dengan mengganti keanekaragaman hutan menjadi monokultur sawit manusia sedang menghapus ingatan ekologis bumi. Kita menciptakan ruang yang tampak hijau tetapi sebenarnya mati secara biologis. Daun daun sawit yang tampak subur menutupi kenyataan bahwa di bawahnya berkurang kehidupan tanah yang dulu kaya mikroorganisme.Kita menggantikan keindahan struktur alam dengan pola bisnis yang mengabaikan kerumitan ekologis. Sebuah bentuk kesombongan manusia yang percaya bahwa alam akan selalu menyesuaikan diri tanpa batas.Tambang adalah babak lain dari cerita yang sama tetapi dengan luka yang lebih dalam. Kawasan tambang yang menganga seperti tubuh bumi yang dipaksa menyerahkan organ vitalnya bukan karena kebutuhan manusia tetapi karena ketamakan ekonomi. Kita menukar keindahan hutan tropis dengan bongkahan mineral yang akan habis dalam beberapa tahun.Kita merusak sungai yang mensuplai kehidupan masyarakat setempat demi bahan baku industri global. Namun politik pembangunan sering memandang aktivitas tambang sebagai harga yang wajar untuk kemajuan nasional. Dalam kenyataan sesungguhnya tambang meninggalkan ruang kosong yang tidak bisa sepenuhnya pulih bahkan setelah beberapa generasi.Baca juga: Mengapa Perkebunan Sawit Merusak Lingkungan?Inilah ironi dari proyek kemajuan yang terlalu yakin pada dirinya sendiri. Ia lupa bahwa bumi memiliki daya dukung yang terbatas dan bahwa setiap luka ekologis akan kembali menghantam manusia. Jika kita melihat seluruh fenomena ini dengan lensa filsafat sains maka krisis lingkungan Indonesia bukan semata masalah teknis tetapi masalah epistemologis.Kita salah memahami posisi kita dalam alam. Kita bertindak seolah lebih tahu daripada alam sendiri. Kita percaya bahwa teknologi mampu mengatasi semua masalah padahal teknologi hanya memberikan solusi pada sebagian kecil dari apa yang kita rusak.

| 2026-01-31 03:11